periskop.id - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan tidak memiliki saham di perusahaan Toba Pulp Lestari (TPL) dan justru menolak keberlanjutan operasional perusahaan tersebut di kawasan Tapanuli, Sumatera Utara.
Luhut menyampaikan bantahan tersebut menanggapi tudingan kepemilikan saham di TPL yang belakangan kembali mencuat. Ia menegaskan satu-satunya kepemilikan saham yang dimilikinya hanya berada di perusahaan yang ia dirikan sendiri, yakni Toba Sejahtra, termasuk unit usaha Kutai Energi.
"Dan kalau ada orang nuduh saya punya saham, saham mana? Tunjukin. Saya tidak pernah punya saham, kecuali di perusahaan saya, yaitu Toba Sejahtra, yang saya buat sendiri. Disitu ada Kutai Energi," kata Luhut dikutip dari Instagram @luhut.pandjaitan, Selasa (13/1).
Ia kemudian menceritakan pengalamannya saat melintas di kawasan operasional TPL dan mendapati adanya aksi demonstrasi masyarakat terkait dampak lingkungan.
Menurut Luhut, masyarakat saat itu mengeluhkan pencemaran air, bau tidak sedap, serta kerusakan lingkungan yang diduga berasal dari aktivitas industri pulp.
"Terus saya minta mobilnya berhenti. Mereka bilang, jangan Pak, ini mereka rusuh. 'Enggak ah berhenti'. Saya turun, saya tanya sama rakyat itu. 'Apa yang terjadi?', 'Ini merusak lingkungan, Pak. Air ke dalam Toba juga," jelas Luhut.
"Terus kemudian bau juga. Kemudian potongan kayu juga dan sebagainya'. Jadi Anda bayangin tahun 2001 saja, rakyat itu sudah paham mengenai lingkungan," lanjutnya.
Luhut menilai, bahkan sejak awal tahun 2000-an, masyarakat setempat telah memiliki kesadaran tinggi terhadap isu lingkungan. Hal itu, menurutnya, menjadi dasar ketika ia mengusulkan kepada Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), agar operasional perusahaan tersebut dihentikan sementara.
"Waktu itu sempat, kalau saya enggak keliru, itu ditutup sementara. Tapi berjalannya waktu, itu dibuka lagi karena lobbynya itu luar biasa. Sehingga buka lah itu," terangnya.
Luhut menilai, berdasarkan penelusuran dan data yang dapat dilihat melalui citra satelit, kerusakan hutan di kawasan Tapanuli pada periode tersebut banyak berkaitan dengan aktivitas industri pulp.
Lebih lanjut, Luhut mengungkapkan bahwa dirinya telah menyampaikan pandangan tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia mengusulkan agar lahan TPL direlinquish atau dikembalikan kepada negara dan dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, khususnya sektor pertanian dan pengembangan hortikultura di Humbang Hasundutan.
"Jadi menurut saya, enggak ada gunanya itu lagi Toba Pulp disitu. Dan Toba Pulp itu sudah cukup itu. Itu kan gak benar," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar