iklan periskop
Bisnis

Honda Rugi untuk Pertama Kalinya dalam 70 Tahun, Ini Biang Keroknya

Honda mencatat rugi pertama sejak 1955 akibat penurunan nilai investasi EV dan perubahan kebijakan emisi di AS.

3 bulan yang lalu · 3 mnt baca
10 Merek Mobil Terbaik Indonesia 2025:  Mobil Incaranmu Masuk Daftar? Cek Faktanya di Sini!
Honda Prelude. ANTARA/HO-Honda
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Industri otomotif global yang mulai mengerem ambisi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kembali memakan korban. Kali ini, Honda mencatat kerugian tahunan pertamanya sejak 1955.

Honda bersama sejumlah produsen mobil dunia memilih menurunkan target pengembangan EV setelah pemerintah Amerika Serikat di bawah Donald Trump mengubah aturan emisi dan menghapus insentif pajak sebesar US$7.500 bagi pembeli mobil listrik. Sejak insentif tersebut dihentikan pada September, penjualan EV anjlok tajam. Bahkan, lonjakan harga bensin belakangan ini belum mampu mendorong minat konsumen AS terhadap kendaraan listrik.

Sebelumnya, perusahaan otomotif memperkirakan aturan emisi di AS akan semakin ketat. Hal itu membuat mereka menggelontorkan investasi besar, mencapai miliaran dolar, untuk beralih ke lini kendaraan sepenuhnya listrik dalam satu dekade ke depan. Namun, kebijakan berubah ketika pemerintahan Trump membatalkan aturan emisi ketat yang sebelumnya diterapkan era Joe Biden, sekaligus menghapus potensi denda besar bagi pelanggaran emisi.

Perubahan tersebut membuat produsen mobil kembali fokus menjual kendaraan berbahan bakar bensin, khususnya truk besar dan SUV yang memberikan margin keuntungan tinggi. Meski demikian, pergeseran strategi ini tidak murah. Banyak perusahaan harus mencatat penurunan nilai (writedown) atas investasi besar yang sebelumnya sudah digelontorkan untuk pengembangan EV.

Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret, Honda melaporkan beban penurunan nilai sebesar 1,6 triliun yen atau hampir US$10 miliar. Angka tersebut menghapus potensi laba yang seharusnya bisa mencapai US$7,4 miliar. Alhasil, Honda justru mencatat rugi bersih sebesar 403,3 miliar yen atau sekitar US$2,6 miliar.

Melansir CNN International, Jumat (15/5), Honda juga memberi sinyal akan kembali mencatat penurunan nilai tambahan atas investasi EV pada tahun fiskal berjalan, meskipun diperkirakan tidak sampai menyebabkan kerugian lagi.

Kinerja Honda ini mengikuti langkah sejumlah produsen otomotif besar lainnya. General Motors sebelumnya melaporkan beban sebesar US$7,2 miliar pada 2025 akibat pengurangan agresivitas di sektor EV. Ford bahkan mencatat beban hingga US$17,4 miliar. Sementara Stellantis, produsen Jeep, Ram, Dodge, dan Chrysler di Amerika Utara, membukukan beban sebesar 25,4 miliar euro atau sekitar US$29,7 miliar.

Meski mencatat beban besar, General Motors masih mampu membukukan laba tahunan. Sebaliknya, Ford dan Stellantis justru mengalami kerugian bersih pada 2025 akibat tekanan dari penyesuaian strategi EV tersebut. Ford juga memperkirakan akan ada tambahan beban pada tahun ini.

Kendati demikian, produsen otomotif belum sepenuhnya meninggalkan kendaraan listrik. Regulasi emisi yang lebih ketat masih akan diberlakukan di Eropa dan Asia, serta di sejumlah negara bagian AS seperti California. Wilayah tersebut bahkan memiliki aturan yang melarang penjualan mobil berbahan bakar bensin baru mulai 2035, meskipun Kongres AS saat ini tengah berupaya menghambat penerapannya.

Selain itu, produsen mobil global juga menghadapi tekanan dari meningkatnya persaingan produsen otomotif China yang sebagian besar berfokus pada kendaraan listrik. Hingga kini, pemain asal China memang masih memiliki kehadiran yang terbatas di pasar Amerika Serikat.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Honda, EV, plug-in hybrid electric vehicle, emisi kendaraan, emisi, otomotif, dan pasar otomotif dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.