Periskop.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang bergerak cepat menangani banjir yang merendam ratusan rumah warga akibat luapan aliran air dari lereng Gunung Semeru, Jumat (15/5) dini hari. Sedikitnya 300 kepala keluarga (KK) terdampak banjir di sejumlah wilayah Kecamatan Sukodono, setelah hujan deras mengguyur kawasan hulu Gunung Semeru sejak Kamis malam.
Bencana hidrometeorologi tersebut terjadi di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang dalam beberapa hari terakhir kembali mengalami serangkaian erupsi, dengan tinggi letusan mencapai 1 kilometer di atas puncak.
"Banjir terjadi akibat tingginya debit air kiriman dari kawasan lereng Gunung Semeru setelah hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Senduro, Gucialit dan Pasrujambe sejak Kamis (14/5) malam," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho di Lumajang, Jumat.
Menurut Isnugroho, tingginya intensitas hujan di wilayah hulu menyebabkan sejumlah aliran sungai meluap hingga merendam permukiman warga di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono. Meski Indonesia mulai memasuki musim kemarau, curah hujan di kawasan pegunungan Semeru masih cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.
"Tim langsung diterjunkan begitu menerima laporan kejadian untuk memastikan keselamatan warga terdampak. Sejak dini hari seluruh personel telah diterjunkan untuk memastikan keselamatan warga, melakukan evakuasi, serta mendistribusikan bantuan kebutuhan dasar,” tuturnya.
BPBD Lumajang bersama TNI, Polri, relawan, perangkat desa, dan unsur terkait langsung melakukan asesmen lapangan, evakuasi warga, hingga penyaluran bantuan logistik darurat. Selain membantu warga mengungsi, petugas juga mengevakuasi barang-barang rumah tangga dan ternak milik masyarakat guna meminimalkan kerugian akibat banjir.
"Petugas juga membantu pemindahan barang-barang rumah tangga dan ternak milik warga untuk meminimalkan kerugian,” imbuhnya.
Data sementara BPBD mencatat sekitar 300 KK terdampak di Dusun Biting RW 08, RW 09, dan RW 10. Genangan juga meluas ke Dusun Krajan II serta Dusun Sekarputih di Desa Sumberejo dengan ketinggian air mencapai 1,2 meter di sejumlah titik.
Banjir yang melanda Lumajang diduga berkaitan dengan tingginya aktivitas hujan di kawasan lereng Semeru yang masih berstatus Level III atau Siaga.
Terus Erupsi
Sebelumnya, Gunung Semeru tercatat mengalami empat kali erupsi hanya dalam rentang waktu lebih dari satu jam pada Rabu (13/5) pagi. Tinggi kolom letusan mencapai 1 kilometer di atas puncak gunung.
"Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Rabu, 13 Mei 2026, pukul 05.07 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 400 meter di atas puncak," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto.
Erupsi kedua terjadi pukul 05.19 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 1 kilometer di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut. Menurut Liswanto, kolom abu vulkanik terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang mengarah ke barat daya.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kembali mengalami erupsi pada pukul 05.53 WIB dan 06.15 WIB dengan tinggi letusan masing-masing sekitar 900 meter dan 500 meter di atas puncak.
"Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 120 detik," ujarnya.
PVMBG mengingatkan masyarakat, agar tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi karena berpotensi terdampak awan panas dan aliran lahar.
"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," serunya.
Selain itu, warga juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan dan aliran material vulkanik di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Berdasarkan data BNPB dan PVMBG, kawasan Lumajang memang menjadi salah satu wilayah paling rawan terdampak banjir lahar hujan dan luapan sungai setiap kali intensitas hujan tinggi terjadi di kawasan Gunung Semeru. Aktivitas vulkanik gunung tersebut dalam beberapa tahun terakhir juga kerap memicu bencana sekunder berupa banjir material vulkanik di wilayah hilir.
Tinggalkan Komentar
Komentar