periskop.id - Industri K-Pop memang sedang berada di puncak popularitas dan sukses bikin banyak anak muda, termasuk di Indonesia, ikut demam Korea. Di balik panggung yang gemerlap dan visual yang selalu tampak sempurna, ada satu masalah yang terus berulang, yaitu standar ganda terhadap idol perempuan.
Dibandingkan idol pria, idol perempuan sering kali jadi sasaran kritik berlebihan, bahkan hanya karena hal-hal sepele yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan.
Apa Itu Double Standard?
Double Standard atau standar ganda adalah situasi ketika seseorang atau kelompok diperlakukan secara berbeda, padahal seharusnya diperlakukan dengan cara yang sama. Istilah ini sering muncul dalam relasi antara laki-laki dan perempuan, ketika ada aturan moral yang tidak seimbang.
Akar dari double standard ini berasal dari norma gender tradisional yang bersifat patriarki dan sudah ditanamkan sejak kecil, lalu terus terbawa dan dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh double standard yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari adalah anggapan bahwa pekerjaan rumah sepenuhnya tanggung jawab perempuan, sementara laki-laki dituntut untuk selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan emosi, termasuk menangis.
Dalam konteks Kpop, hal ini sering terjadi pada idol perempuan yang sering menjadi sasaran komentar negatif terkait penampilan fisik, ekspresi wajah, berat badan, hingga cara makan.
Dikritik untuk Hal Sepele
Contohnya, ada idol perempuan yang disorot hanya karena cara memegang makanan, dugaan operasi plastik tanpa bukti, atau sekadar berdiri di dekat idol pria. Hal-hal ini dengan cepat viral dan memicu gelombang kritik di media sosial.
Sebaliknya, idol pria sering kali dinilai dari sisi profesional saja. Ketika menghadapi kontroversi, fokus publik cenderung tertuju pada karya, prestasi, atau pernyataan resmi agensi, bukan pada kehidupan pribadi atau tubuh mereka.
Dilansir dari KbizoOm. com, beberapa kontroversi besar melibatkan idol pria seperti Taeil (NCT) yang dituding melakukan kejahatan seksual serius, serta Joo Hak-nyeon (THE BOYZ) yang dirumorkan berkencan dengan aktris film dewasa asal Jepang. Meski kasus dan rumor tersebut tergolong berat, banyak netizen menilai reaksi publik terhadap idol pria justru cenderung lebih ringan jika dibandingkan dengan perlakuan terhadap idol perempuan.
Sebaliknya, idol perempuan seperti Yuna, Karina, dan Jang Wonyoung kerap menjadi sasaran kritik hanya karena rumor, asumsi berdasarkan penampilan, atau tindakan yang sebenarnya tidak berbahaya sama sekali. Yuna, misalnya, sempat menjadi bahan perbincangan karena rumor operasi pelvis yang sudah dibantah. Karina dituding melakukan operasi payudara dan dianggap sengaja berjalan di belakang idol pria. Sementara itu, Jang Wonyoung menuai ejekan hanya karena cara makan stroberi dengan kedua tangan.
Bahkan, sejumlah netizen menyebut idol perempuan sering dibedah frame demi frame hanya untuk menilai ekspresi wajah mereka. Di sisi lain, idol pria yang terbukti melakukan kesalahan nyata masih kerap mendapat pembelaan. Fenomena ini menunjukkan adanya bias gender yang kuat dalam cara publik menilai idol, sekaligus menjadi pengingat pentingnya peran fandom dan media untuk menerapkan standar yang lebih adil tanpa memandang gender.
Standar Moral yang Tidak Seimbang
Selain penampilan, idol perempuan juga dibebani standar moral yang lebih ketat. Mereka dituntut untuk selalu bersikap sempurna, sopan, ramah, tidak boleh terlihat marah, lelah, atau melakukan kesalahan kecil di depan publik. Jika melanggar ekspektasi tersebut, respons publik bisa sangat keras.
Dalam banyak kasus, idol pria masih diberi ruang untuk belajar atau memperbaiki diri. Sementara idol perempuan sering kali langsung dicap buruk dan sulit lepas dari label negatif yang telanjur melekat.
Tekanan Mental yang Jarang Dibahas
Tekanan berlapis ini berdampak besar pada kesehatan mental idol perempuan. Tuntutan untuk selalu tampil ideal, ditambah sorotan publik yang konstan, membuat mereka lebih rentan mengalami stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional. Sayangnya, isu ini sering kali tenggelam di balik gemerlap industri hiburan Kpop.
Double standard tidak lepas dari budaya patriarki yang masih memengaruhi cara publik memandang perempuan di ruang publik. Perempuan dinilai lebih keras, sementara kesalahan mereka dianggap lebih fatal dibandingkan laki-laki.
Peran Media dan Penggemar
Media dan penggemar memiliki peran besar dalam memperkuat atau menghentikan pola ini. Judul sensasional, potongan video tanpa konteks, serta komentar negatif yang dinormalisasi turut memperpanjang siklus kritik berlebihan terhadap idol perempuan.
Padahal, idol baik perempuan maupun pria sama-sama manusia biasa yang bisa lelah, salah, dan belajar. Menuntut kesempurnaan tanpa empati justru menciptakan lingkungan yang tidak sehat, tidak hanya bagi idol, tetapi juga bagi penggemar itu sendiri.
Tinggalkan Komentar
Komentar