periskop.id - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) akan membentuk Klinik UMKM Bangkit bagi pelaku usaha di daerah terdampak bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Klinik ini ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2026.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan pembentukan klinik tersebut merupakan upaya pemerintah pusat untuk mengoptimalkan pemulihan ekonomi pelaku UMKM di wilayah terdampak bencana.
"Pembentukan Klinik UMKM Bangkit ini adalah arahan dari Pak Presiden agar kita, pemerintah pusat, ikut mendukung pemerintah daerah dalam rangka pemulihan ekonomi agar semakin cepat," kata Maman dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (29/12).
Maman menjelaskan, Klinik UMKM Bangkit akan menyediakan tiga layanan utama, yakni pembiayaan, belanja produk lokal, dan produksi. Ketiga layanan tersebut akan dijalankan secara terintegrasi melalui kolaborasi dengan berbagai mitra terkait.
Dalam layanan pembiayaan, Kementerian UMKM telah berkoordinasi dengan 16 bank penyalur, enam lembaga penjamin, serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Pemerintah provinsi dan kabupaten di daerah terdampak juga dilibatkan.
"Nah, sebagai contoh, dalam konteks layanan pembiayaan, kami tadi pagi sudah melakukan rapat koordinasi dengan 16 institusi bank penyalur, lalu enam institusi lembaga penjamin, kemudian dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, OJK, serta Bank Indonesia, ditambah Baznas," papar Maman.
"Nah, termasuk juga pemerintah provinsi dari ketiga daerah, serta pemerintah kabupaten di wilayah yang terkena bencana," tambahnya.
Sementara itu, pada layanan belanja produk lokal, pemerintah akan membangun closed loop economic system, di mana produk UMKM dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diutamakan untuk dibeli dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Jika kapasitas pasar lokal terbatas, pembelian akan diperluas ke luar daerah.
"Nah, tujuannya apa? Dibeli juga oleh masyarakat sekitar. Dan apabila tidak bisa ditampung atau dibeli oleh masyarakat sekitar, kita libatkan pihak-pihak di luar provinsi untuk bisa membeli serta berbelanja produk-produk lokal yang ada di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara," terangnya.
Untuk mendukung program tersebut, Kementerian UMKM menggandeng sekitar 22 mitra, antara lain platform digital dan ritel seperti Lazada Indonesia, Shopee, Tokopedia, Grab, GoTo, Blibli, Indomaret, Alfamart, dan AEON, serta sejumlah asosiasi usaha bersama Kementerian Perdagangan.
"Asosiasi-asosiasinya antara lain Aprindo, Hipindo, PHRI, IKP, APPSI, dan Inkoppas. Lalu, kami juga melibatkan ABDSI serta organisasi kemasyarakatan melalui Lembaga Pengembangan UMKM PP Muhammadiyah," jelasnya.
Lebih lanjut, Maman menegaskan sinergi ketiga layanan tersebut menjadi kunci agar pemulihan ekonomi berjalan optimal.
"Maka dari itu, Klinik UMKM Bangkit ini kami dorong untuk melakukan sinergi ketiga layanan tersebut agar ekonomi di daerah setempat mulai bergerak kembali," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar