periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan fundamental dan tren pertumbuhan ekonomi menunjukkan prospek positif pada tahun 2026. Hal ini terlihat dari peningkatan konsumsi masyarakat berdasarkan Mandiri Spending Index yang mencapai level 312 pada November.

"Ini basis angkanya di threshold-nya 300," kata Airlangga dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), Jakarta, dikutip Sabtu (29/11).

Selain konsumsi, Airlangga menyampaikan bahwa realisasi investasi dari Januari hingga September mencapai Rp1.434 triliun, tumbuh 13,7% secara tahunan (year-on-year, yoy). Ia menilai kontribusi investasi ke depan akan semakin terasa.

Ia juga menyebut percepatan belanja pemerintah per 24 November, yakni Belanja Kementerian/Lembaga sebesar Rp1.109 triliun dan Program Prioritas Presiden mencapai Rp213 triliun.

Dari sisi moneter, sepanjang 2025 Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 125 basis poin sehingga BI rate berada pada level 4,75%. Kebijakan ini, menurut Airlangga, akan mendorong penyaluran kredit dan belanja.

"Kita beri tepuk tangan kepada BI. Kita bersyukur inflasi tercatat 2,86% secara year-on-year di bulan Oktober, terkendali dalam rentang sasaran target nasional, dan hal ini dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan suku bunga BI serta dorongan insentif fiskal pemerintah dalam mengelola ekspektasi inflasi," terang Airlangga.

Dengan indikator-indikator tersebut, Airlangga menilai hampir seluruh risiko pertumbuhan untuk tahun 2026 telah dikelola dan diserap pada tahun ini.

"Jadi, Pak Presiden (Prabowo Subianto), risiko yang akan muncul seluruhnya sudah price-in, sudah masuk di dalam tingkat suku bunga dan harga-harga termasuk rupiah di tahun ini," tuturnya.

"Sehingga untuk tahun 2026 yang kita lihat adalah risiko positif, Pak Presiden. Dengan baseline di 5,4% sesuai dengan APBN, kita berharap dan optimis tahun depan akan lebih baik dari tahun ini," tutup Airlangga.