periskop.id - Pertumbuhan ekonomi Arab Saudi dalam beberapa dekade terakhir bergerak sangat pesat. Transformasi besar yang dijalankan melalui Saudi Vision 2030 membuat negara kerajaan tersebut tampil sebagai salah satu pusat ekonomi paling dinamis di kawasan.
Di bawah kepemimpinan Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), Arab Saudi tengah gencar melakukan diversifikasi ekonomi, membangun proyek infrastruktur besar, memperluas industri halal dan pariwisata, serta memperkuat investasi global.
Pada kesempatan ini, Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menggelar dialog dengan Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B. Ambary, pada 26 November 2025. Pertemuan ini membahas strategi memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia sekaligus mengoptimalkan potensi kerja sama antara Pemerintah Pusat dan Perwakilan RI di Arab Saudi.
Dalam dialog tersebut, Yusron menyampaikan perkembangan kinerja KJRI Jeddah selama periode 2024–2025. Ekspor Indonesia ke Arab Saudi melonjak signifikan, didorong oleh tingginya permintaan produk makanan olahan dan bumbu masakan yang digunakan penyedia layanan katering bagi jemaah Haji dan Umrah.
"Tren ini menunjukkan bahwa pasar Arab Saudi, khususnya sektor layanan Haji dan Umrah, masih menyimpan peluang yang sangat besar bagi pelaku usaha Indonesia untuk memasok berbagai kebutuhan jemaah Haji dan Umrah Indonesia,” tutur Yusron, dikutip Senin (1/12).
Selain itu, KJRI Jeddah aktif menggelar berbagai business matching yang melibatkan kementerian/lembaga terkait serta pelaku usaha kedua negara. Langkah ini tidak hanya memperluas jaringan perdagangan, tetapi juga meningkatkan eksposur dan daya saing produk Indonesia, sekaligus memperkuat promosi pariwisata nasional kepada dunia usaha dan masyarakat Arab Saudi.
Yusron menilai minat wisatawan Arab Saudi terhadap destinasi Indonesia sangat tinggi. Namun, Indonesia masih kalah saing dengan negara ASEAN lain yang lebih gencar memasarkan pariwisatanya. Ia menekankan pentingnya strategi promosi terfokus serta pengembangan ekosistem pariwisata yang sesuai dengan preferensi wisatawan Timur Tengah.
Di sisi investasi, Indonesia dinilai masih memiliki keterbatasan dalam menarik penanaman modal dan investasi langsung (foreign direct investment/FDI) dari investor dan perusahaan-perusahaan Arab Saudi.
Menurutnya, kolaborasi dengan Islamic Development Bank (IsDB) berpotensi membuka peluang investasi lebih besar, termasuk untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis ekonomi dan keuangan syariah.
"KEK juga menawarkan peluang yang sangat besar bagi para investor Saudi, khususnya untuk membangun industri pengolahan di Indonesia atas berbagai barang dan produk yang akan dipasarkan di Arab Saudi,” lanjut dia.
Tidak hanya soal investasi, Yusron juga menyoroti isu perlindungan WNI. Ia menegaskan bahwa perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) tetap menjadi prioritas, mengingat besarnya potensi ekonomi dan remitansi dari para PMI di Arab Saudi yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp41 triliun pada tahun 2025.
“KJRI secara konsisten memberikan pendampingan hukum, advokasi, dan edukasi bagi komunitas Indonesia di Arab Saudi. KJRI Jeddah juga rutin menyosialisasikan beasiswa bagi pelajar Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), termasuk program ADEM dan ADIK yang membuka peluang pendidikan lanjut bagi siswa SMP dan SMA,” ujar Yusron.
Tinggalkan Komentar
Komentar