periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor konsentrat tembaga (HS 2603) mengalami penurunan signifikan sepanjang 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, penurunan ini terlihat baik jika dibandingkan dengan tahun lalu maupun secara total sejak Januari, seiring kebijakan pelarangan ekspor yang mulai diterapkan pada awal tahun.

"Jadi ekspor konsentrat biji tembaga, HS 2603, ini mengalami penurunan yang cukup signifikan, baik secara year-on-year (yoy) maupun kumulatif," kata Pudji dalam konferensi pers Rilis BPS, Senin (1/12).

Pudji menyebut pada Oktober 2025 tidak ada ekspor konsentrat tembaga yang tercatat, sehingga secara year-on-year (yoy) ekspor komoditas tersebut turun 100%. Secara kumulatif Januari hingga Oktober 2025, nilai ekspor konsentrat tembaga tercatat turun 39,44%.

"Secara kumulatif nilainya turun 39,44% dan volumenya turun 41,67%," ujarnya.

Penurunan ekspor sudah terjadi sejak awal tahun, meskipun izin ekspor Freeport, salah satu eksportir konsentrat tembaga terbesar RI, baru berakhir pada September 2025. Hal ini karena pelarangan ekspor telah diberlakukan sejak Januari, sehingga aktivitas ekspor menurun jauh sebelum izin tersebut habis.

Secara keseluruhan, BPS melaporkan sepanjang Januari hingga Oktober 2025, total nilai ekspor Indonesia mencapai US$234,04 miliar. Realisasi itu naik 6,96% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pudji menyebut nilai ekspor minyak dan gas (migas) tercatat senilai US$10,93 miliar atau turun 16,11%. Nilai ekspor non-migas tercatat naik sebesar 8,42% menjadi US$223,12 miliar.

"Jika dilihat menurut sektor, peningkatan nilai ekspor non-migas secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan dan sektor pertanian," kata dia dalam rilis BPS, Senin (1/12).

Ia menjelaskan, sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor non-migas Indonesia sejak Januari hingga Oktober 2025 dengan andil sebesar 11,68%.