periskop.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Tengah mengalami kontraksi hingga 6% sepanjang 2025 akibat penurunan kinerja sektor pertambangan secara signifikan. Wilayah ini mencatatkan performa terendah dibandingkan provinsi lain di saat ekonomi nasional tumbuh positif.
"Pertumbuhan ekonomi wilayah Papua Tengah terendah pada tahun 2025 salah satunya disebabkan oleh penurunan pertumbuhan pada kategori pertambangan dan penggalian yang memang cukup besar," ujar Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, 5/2.
Amalia memaparkan penyebab utama jatuhnya ekonomi di provinsi baru tersebut. Sejumlah insiden teknis di lapangan menghambat proses produksi pertambangan yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah itu.
Gangguan operasional tersebut berdampak langsung pada volume output tambang. Hal ini membuat sektor penggalian tidak mampu memberikan kontribusi positif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) setempat.
"Penurunan ini tentunya karena ada beberapa insiden atau kejadian yang menghambat produksi dari kegiatan produksi pertambangan di daerah Papua Tengah. Misalnya seperti insiden luapan lumpur material basah," katanya.
Berbanding terbalik dengan kondisi di Papua Tengah, BPS mencatat kinerja ekonomi di wilayah barat dan tengah Indonesia justru moncer. Pulau Jawa dan Sulawesi berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional yang berada di angka 5,11%.
Data BPS menunjukkan wilayah Pulau Jawa tumbuh impresif sebesar 5,30%. Sementara itu, Pulau Sulawesi mencatatkan akselerasi yang lebih tinggi dengan angka pertumbuhan mencapai 6,23% sepanjang tahun lalu.
Dominasi Pulau Jawa terhadap struktur ekonomi Indonesia masih sangat kuat. Pulau ini menyumbang kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 56,93%, disusul Sumatera dengan kontribusi 22,22%.
Pertumbuhan tinggi di Sulawesi sendiri ditopang oleh fundamental industri yang solid. Sumber pertumbuhan utama di pulau berbentuk huruf K ini berasal dari sektor industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan yang terus menggeliat.
Meskipun wilayah timur tertekan oleh kinerja Papua Tengah, kawasan Maluku dan Papua secara umum masih memiliki titik cerah. Sektor industri pengolahan tetap menjadi penopang utama, diikuti pertambangan dan perdagangan di area lain.
Provinsi Maluku Utara tampil sebagai penyeimbang di kawasan timur dengan performa gemilang. Provinsi ini memberikan andil pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan tersebut sebesar 5,33%, menutup celah perlambatan yang terjadi di wilayah tetangganya.
Tinggalkan Komentar
Komentar