periskop.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim seluruh aktivitas ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terekam dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang 2025. Program andalan pemerintah ini diklaim memberikan dampak nyata pada sisi pengeluaran maupun lapangan usaha, khususnya penyediaan pangan.

"Dalam mencatat pertumbuhan ekonomi tentunya seluruh aktivitas yang ada dalam perekonomian Indonesia dicatat oleh BPS, termasuk aktivitas ekonomi yang tercipta akibat program makan bergizi gratis," ujar Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2).

BPS mencatat program tersebut memacu pergerakan ekonomi riil secara langsung. Aktivitas produksi dan konsumsi yang timbul dari kebijakan ini masuk dalam kalkulasi pertumbuhan ekonomi nasional, baik dari sisi suplai maupun permintaan.

Amalia menjelaskan dampak paling signifikan terlihat pada sektor penyediaan makanan dan minuman. Program ini menciptakan rantai pasok yang hidup dan memberikan multiplier effect di tingkat produsen hingga penyedia jasa.

"Dari sisi lapangan usaha, program MBG memberikan nilai tambah di beberapa sektor antara lain untuk penyediaan makanan minuman dan ini terekam dalam data pertumbuhan ekonomi kami," jelasnya.

Data BPS memperlihatkan industri pengolahan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi tahun lalu. Secara spesifik, industri makanan dan minuman tumbuh impresif sebesar 6,39% sepanjang 2025.

Pertumbuhan sektor tersebut didorong oleh peningkatan produksi beras dan minyak kelapa sawit (CPO) beserta turunannya. Kapasitas produksi industri makanan juga terjaga stabil untuk memenuhi permintaan domestik yang meningkat, termasuk dari program pemerintah.

Secara akumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berhasil tumbuh 5,11%. Angka ini didukung oleh kinerja triwulan IV-2025 yang mencatatkan pertumbuhan 5,39% secara tahunan (year on year).

Capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal terakhir 2025 tersebut tercatat sebagai rekor tertinggi pascapandemi COVID-19. Selain program pemerintah, mobilitas masyarakat saat libur akhir tahun turut menjadi katalisator pertumbuhan ini.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar distribusi PDB dengan porsi 53,63%. Daya beli masyarakat yang terjaga memungkinkan penyerapan produk dari program-program strategis pemerintah berjalan optimal.