Periskop.id - Inflasi nasional pada November 2025 tercatat mengalami perlambatan dan masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah. Kondisi ini dinilai turut menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang akhir tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang disadur oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam Konferensi Pers APBNKita Edisi Desember 2025, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2025 tercatat sebesar 2,72% secara tahunan (year on year/yoy).

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% dengan rentang toleransi plus minus 1% (2,5±1%). Pemerintah menilai stabilitas inflasi ini menjadi sinyal positif bagi konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Inflasi Inti dan Harga yang Diatur Pemerintah

Dari sisi komponen, inflasi inti pada November 2025 tercatat sebesar 2,36% (yoy). Inflasi ini mencerminkan tekanan harga yang lebih fundamental dan relatif stabil karena tidak dipengaruhi faktor musiman maupun kebijakan pemerintah secara langsung.

Inflasi inti pada periode ini masih dipengaruhi oleh kenaikan harga emas. Pergerakan harga emas global yang cenderung meningkat turut mendorong inflasi inti, meskipun tekanannya masih terjaga.

Sementara itu, inflasi administered price atau harga yang diatur pemerintah tercatat sebesar 1,58% (yoy). Kenaikan inflasi ini terutama dipicu oleh peningkatan tarif angkutan udara. Tekanan pada komponen ini berpotensi berlanjut pada Desember 2025 seiring meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Volatile Food Masih Tinggi

Komponen inflasi volatile food atau harga pangan bergejolak tercatat sebesar 5,48% secara tahunan pada November 2025. Inflasi ini umumnya dipengaruhi oleh faktor musiman, distribusi, serta kondisi pasokan pangan.

Pemerintah menyampaikan bahwa pengendalian inflasi volatile food terus dilakukan melalui berbagai langkah, seperti operasi pasar, penguatan stok, pengelolaan cadangan pangan, serta intervensi harga. Upaya ini difokuskan terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), termasuk periode Nataru, guna menjaga stabilitas harga pangan di tingkat konsumen.

Sebaran Inflasi Antarprovinsi

Dari sisi wilayah, terdapat perbedaan tingkat inflasi antarprovinsi pada November 2025. Provinsi dengan inflasi tahunan tertinggi adalah Riau dengan inflasi sebesar 4,3%. Posisi berikutnya ditempati Papua Pegunungan dengan inflasi 4%, disusul Sumatera Barat dan Sumatera Utara yang masing masing mencatat inflasi 4%, serta Aceh sebesar 3,6%.

Di sisi lain, sejumlah provinsi mencatat inflasi yang relatif rendah. Sulawesi Utara menjadi provinsi dengan inflasi terendah pada November 2025, yakni sebesar 0,7%. Papua mencatat inflasi 0,8%, Lampung 1,1%, Papua Barat 1,3%, dan Papua Barat Daya sebesar 1,4%.

Perbedaan tingkat inflasi antarwilayah mencerminkan variasi kondisi pasokan, distribusi, serta pola konsumsi masyarakat di masing masing daerah.

Stabilitas inflasi pada November 2025 menjadi faktor penting dalam menjaga kekuatan daya beli masyarakat. Dengan inflasi yang tetap terkendali, konsumsi rumah tangga diharapkan tetap tumbuh dan menopang kinerja ekonomi nasional hingga akhir tahun.

Ke depan, pemerintah diharapkan terus memperkuat koordinasi kebijakan pusat dan daerah, khususnya dalam pengendalian harga pangan dan transportasi, guna memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran.