periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan perekonomian Indonesia pada 2025 menunjukkan pemulihan yang semakin kuat dan memasuki fase rebound. Setelah sempat mengalami perlambatan signifikan, kondisi ekonomi nasional kini kembali bergerak naik berkat perbaikan kebijakan yang dilakukan secara konsisten.

“Kondisi ekonomi 2025 keseluruhan rebound, kita bilang gitu. Kenapa? Sebelumnya kan melambat, kita hampir jatuh ekonominya ke tempat yang dalam sekali,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, ditulis Sabtu (20/12).

Ia menegaskan bahwa pemulihan ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi akan terus berakselerasi. Pemerintah akan mengoptimalkan seluruh mesin pertumbuhan, mulai dari kebijakan fiskal, moneter, hingga peningkatan investasi.

“Tapi dengan perbaikan kebijakan, satu kata rebound. Continue to accelerate, jadi akan semakin cepat. Kita akan jalankan mesin fiskal, mesin moneter, mesin ekonomi, dan investasi,” jelasnya.

Menurut Bendahara Negara itu, koordinasi antara pemerintah dan bank sentral juga semakin erat, sehingga kebijakan yang diambil menjadi lebih selaras dan efektif. Kondisi ini membuka ruang yang lebih luas bagi sektor pemerintah, swasta, dan investasi untuk tumbuh bersama secara berkelanjutan.

“Jadi ruang untuk mesin fiskal, moneter, private sector, government sector untuk tumbuh bareng itu semakin terbuka lebar. Optimis,” tutur dia.

Sebelumnya, Purbaya menekankan pentingnya memprioritaskan pasar domestik dalam strategi pemulihan ekonomi.

Ia menuturkan, permintaan domestik menyumbang sekitar 90% perekonomian Indonesia. Dengan angka tersebut, fokus pada permintaan dalam negeri bisa menjaga stabilitas ekonomi meski kondisi global tengah bergejolak.

“Ngapain kita pusing-pusing soal dunia, kalau domestic demand kita kuat, ekonomi kita tetap stabil,” ujar Purbaya di Jakarta, ditulis Selasa (2/12).

Ia menilai pengalaman Indonesia saat krisis keuangan global pada tahun 2008 hingga 2009 menjadi contoh nyata. Saat itu, negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Korea, Jepang, Eropa, dan Amerika mengalami pertumbuhan negatif. Sementara Indonesia mampu tumbuh positif sebesar 4,6%, bersama China dan India.