periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai perekonomian domestik tetap menunjukkan ketahanan di tengah gejolak ekonomi global. Ia menyebut meskipun kondisi global masih berfluktuasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada level yang relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain.
"Di tengah gejolak global ekonomi domestik masih tetap resiliensi, sebetulnya globalnya gpp sih meskipun gejolak ini itu, kita masih tumbuh lebih bagus," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, Kamis (8/1).
Purbaya menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tercatat sebesar 4,87%, kemudian meningkat menjadi 5,02%, dan kembali naik menjadi 5,04% pada periode berikutnya.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV juga akan mendekati 5,45%, apabila tidak terjadi perubahan signifikan. Meski sedikit di bawah target yang diharapkannya, capaian tersebut dinilai masih cukup baik dibandingkan kuartal sebelumnya.
"Yang jelas adalah momentum pembalikan arah ekonomi yang sudah terjadi jadi kita ke depan harus kita akan tumbuh dengan lebih baik," jelas Purbaya.
Dari sisi stabilitas harga, Purbaya menyebut inflasi masih relatif terkendali. Inflasi tercatat sebesar 2,92%, meski mengalami sedikit kenaikan di akhir tahun, namun tetap berada dalam kisaran target yang ditetapkan pemerintah.
Ia juga menyoroti kinerja neraca perdagangan yang mencatatkan surplus sebesar US$38,5 miliar atau tumbuh 31,8% secara tahunan. Purbaya menilai capaian tersebut mencerminkan laju pertumbuhan yang sangat tinggi, bahkan berbanding terbalik dengan kondisi global yang seharusnya berdampak negatif.
"Makanya saya bilang globalnya gonjang ganjing ternyata rate balancen kita kinerja sangat baik harusnya si global dampaknya ke kita negatif tapi malah positif," terang dia.
Selain itu, indikator aktivitas manufaktur juga menunjukkan ekspansi. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember tercatat sebesar 51,2, yang mencerminkan ekspansi sektor manufaktur dan menjadi gambaran positif bagi perekonomian secara keseluruhan.
"Di November sempat naik 53,3 sekarang turun sedikit mungkin karena banyak libur dan akhir tahun aktivitas agak lambat sedikit di manufaktur tapi saya yakin akan naik lagi," timpalnya.
Dari pasar keuangan, Purbaya menyampaikan bahwa yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun menunjukkan tren penurunan. Yield sempat turun ke level 5,9%, kemudian naik ke 6,3%, dan kembali turun ke sekitar 6,01%. Secara keseluruhan, yield SBN 10 tahun telah turun sekitar 1,1 poin persentase dari level 7,02% pada akhir 2024.
"Jadi surat utang kita lebih dipercaya market sehingga yieldnya bisa turun, artinya ongkos kami mengeluarkan surat utang lebih murah 1% dibanding akhir tahun 2024 lalu," tutup Purbaya.
Tinggalkan Komentar
Komentar