periskop.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi subsidi tahun 2025 mencapai Rp281,6 triliun, atau 91,4% dari pagu APBN. Angka tersebut meliputi subsidi energi maupun non-energi.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan penyaluran subsidi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain fluktuasi asumsi makro dan parameter subsidi seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP), nilai tukar, serta volume konsumsi.
"Kalau subsidi energi tentu sangat dipengaruhi oleh berbagai macam harga komoditas maupun kurs, dan juga volume subsidinya," kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, ditulis Sabtu (10/1).
Selain itu, penyederhanaan birokrasi melalui pemangkasan 145 regulasi pada penyaluran pupuk bersubsidi turut mempercepat distribusi dan meningkatkan efektivitas penyaluran di lapangan. Pemerintah juga menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi meliputi urea, NPK, ZA, dan pupuk organik agar lebih terjangkau bagi petani.
Ia menyebut hingga 31 Desember 2025, realisasi penyaluran berbagai barang bersubsidi menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Penyaluran BBM bersubsidi mencapai 18.979,3 ribu kiloliter, tumbuh 4,7% secara tahunan. Penyaluran LPG 3 kilogram terealisasi 8.544,9 juta kilogram, meningkat 3,9%.
Sementara itu, jumlah pelanggan listrik bersubsidi meningkat menjadi 42,8 juta pelanggan, tumbuh 2,6% dibandingkan 2024. Penyaluran pupuk bersubsidi juga naik signifikan menjadi 8,1 juta ton, atau tumbuh 12,1%.
Adapun subsidi perumahan mencatat lonjakan paling tinggi, dengan realisasi 278,9 ribu unit rumah, meningkat 39,5% secara tahunan.
"Ini meningkatnya cukup tinggi yaitu 39,5% jumlah rumahnya," tutup Suahasil.
Tinggalkan Komentar
Komentar