Periskop.id - Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memandang, Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat pengelolaan pasokan valuta asing (valas) di pasar valas domestic. Hal ini diperlukan sebagai respons atas pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Untuk diketahui, nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (20/1) sore, seiring penguatan indeks dolar AS. Rupiah ditutup di level Rp16.956 per dolar AS, melemah 1 poin dari penutupan sebelumnya Rp16.955, setelah sempat tertekan hingga 30 poin. 

Mengutip Antara, Selasa (20/1) Myrdal menilai, tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dolar di dalam negeri.

Dari sisi permintaan, menurutnya, kebutuhan valas masih relatif konsisten, terutama berasal dari importir serta kewajiban pembayaran utang luar negeri. Jika terjadi peningkatan, kenaikannya dinilai masih bersifat musiman pada awal tahun.

Namun di sisi lain, pasokan valas di pasar domestik terlihat relatif terbatas. Myrdal menduga, hal ini terjadi karena eksportir, khususnya eksportir sumber daya alam nonmigas, belum optimal mengonversi devisa hasil ekspor mereka ke rupiah.

Kondisi tersebut menyebabkan ketimpangan antara ketersediaan dolar dan kebutuhan valas domestik, sehingga dolar cenderung menguat dan rupiah tertekan.

“Itu kalau dilihat dari sisi kita (faktor di domestik). Karena, menurut saya, faktor fundamental kita itu sebenarnya mengarah ke kondisi di mana seharusnya rupiah mengalami penguatan terhadap dolar. Tapi ini malah terjadi sebaliknya,” tuturnya.

Oleh karena itu, menurut Myrdal, bank sentral perlu mendorong peningkatan pasokan valas di pasar domestic. Salah satunya melalui imbauan kepada eksportir agar segera mengonversi dolar hasil ekspor ke rupiah.

Dalam hal ini, peran pemerintah juga dinilai penting untuk memperkuat kebijakan yang mendorong perputaran devisa di dalam negeri.

“Pelemahan rupiah saat ini terjadi di tengah inflow yang mengalir masuk ke pasar keuangan kita. Juga terjadi di tengah kondisi neraca dagang yang surplus selama 67 bulan berturut-turut, serta neraca transaksi berjalan dengan posisinya per kuartal ketiga (2025) surplus,” ujar Myrdal.

Selain itu, imbuh dia, BI juga harus terus menjalankan intervensi sebagai langkah stabilisasi. Antara lain melalui pasar surat berharga negara (SBN) sekunder, pasar spot rupiah, instrumen NDF (non-deliverable forward) dan DNDF (domestic non-deliverable forward), serta transaksi swap valas.

Kombinasi Intervensi
Terpisah, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman juga berpandangan serupa. Menurutnya, dari sisi respons kebijakan, stabilisasi nilai tukar tidak cukup jika hanya mengandalkan intervensi di pasar spot.

“Data menunjukkan, ketika tekanan berasal dari arus modal jangka pendek, efektivitas intervensi konvensional menjadi terbatas. Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah kombinasi intervensi di pasar spot, instrumen derivatif valas, serta stabilisasi pasar obligasi untuk menahan volatilitas dan menjaga kepercayaan investor,” beber Rizal.

Di luar itu, imbuh dia, penguatan pasokan valas domestik, terutama melalui optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE), perlu terus diperkuat agar stabilitas rupiah tidak sepenuhnya bergantung pada arus modal asing.

Menurut Rizal, pelemahan rupiah yang bergerak mendekati Rp17.000 per dolar AS saat ini lebih mencerminkan tekanan siklikal global, ketimbang memburuknya fundamental ekonomi domestik.

Secara data, jelas dia, penguatan dolar AS masih ditopang oleh tingginya imbal hasil US Treasury dan ekspektasi suku bunga global yang bertahan lebih lama. Dampaknya tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga menekan mayoritas mata uang negara emerging market di Asia.

Namun, rupiah memang relatif lebih sensitif karena struktur pasar keuangan domestik masih cukup terbuka terhadap pergerakan portofolio asing. Tak heran, perubahan sentimen global cepat tercermin pada nilai tukar.

“Meski demikian, pelemahan ini belum dapat dikategorikan sebagai sinyal krisis, selama tetap berada dalam rentang volatilitas yang terkendali. Inflasi domestik masih terjaga dalam target, neraca eksternal relatif solid, dan cadangan devisa berada pada level yang memadai untuk meredam gejolak jangka pendek,” jelas Rizal.

Ia menambahkan, tekanan nilai tukar saat ini lebih banyak bersumber dari faktor psikologis pasar dan penyesuaian portofolio, bukan dari ketidakseimbangan struktural ekonomi. Alarm kebijakan baru dinilai benar-benar relevan jika depresiasi berlanjut dan mulai menular ke ekspektasi inflasi, biaya pembiayaan utang, atau stabilitas sektor keuangan.

“Peluang stabilisasi bahkan penguatan rupiah tetap terbuka, tetapi tidak bersifat otomatis,” serunya. 

Sementara itu, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari faktor eksternal yang menambah ketidakpastian pasar.

“Indeks dolar AS menguat pada Selasa, sementara rupiah sempat melemah cukup dalam sebelum akhirnya ditutup tipis. Perdagangan besok masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah,” ujarnya.