periskop.id - Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Deniey Adi Purwanto menegaskan independensi Bank Indonesia (BI) merupakan kunci utama dalam menjaga stabilitas moneter dan kepercayaan investor. Menurutnya, kredibilitas BI sangat bergantung pada jarak yang jelas dari kepentingan politik.
Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI resmi mengangkat Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih periode 2026–2031. Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Paripurna yang digelar hari ini, Selasa 27 Jnuari 2026.
"Dari sisi independensi tujuan dan instrumen, BI memiliki kewenangan penuh untuk memilih alat kebijakan yang diperlukan demi menjaga nilai rupiah,” ucap Deniey dalam diskusi publik bertajuk Depresiasi Rupiah dan Dilema Independensi secara daring, Selasa (27/1).
Deniey menekankan setiap keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bersifat kolektif dan tidak bisa dibatalkan oleh pihak lain. Hal ini, menurutnya menjadi fondasi penting dalam menjaga independensi operasional BI. Bukti empiris juga menunjukkan, bank sentral yang independen cenderung mampu menekan inflasi dan menjaga kestabilannya.
Selain itu, Deniey menekankan independensi bank sentral menjadi faktor krusial untuk mempertahankan kepercayaan investor, terutama di tengah guncangan eksternal. Independensi juga berperan mencegah fiscal dominance, agar bank sentral tidak dipaksa membiayai defisit pemerintah secara tidak berkelanjutan.
Namun, dalam beberapa pekan terakhir pasar mulai memperhatikan risiko institusional yang muncul akibat perubahan kepemimpinan di BI.
"Peningkatan selisih imbal hasil obligasi pemerintah dan depresiasi rupiah bukan murni karena fundamental makro melemah, tapi lebih karena penyesuaian risiko institusional,” sambung Deniey.
Kekhawatiran investor pun mencuat setelah pengunduran diri salah satu pejabat teknokrat BI dan pencalonan gubernur baru yang memiliki koneksi politik dan keluarga. Penunjukan Thomas Djiwandono menggantikan Juda Agung memicu spekulasi bahwa independensi BI bisa terganggu.
"Jika pasar menilai dewan gubernur baru akan lebih condong memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintah atau kurang fokus pada stabilitas inflasi dan nilai tukar, arus keluar modal bisa meningkat, menekan rupiah lebih lanjut,” jelas Deniey.
Dampaknya sudah terlihat. Rupiah sempat mendekati rekor terendah di level Rp16.985 per dolar AS, sementara imbal hasil obligasi pemerintah terus naik. Deniey menekankan bahwa sentimen pasar sangat sensitif terhadap persepsi independensi bank sentral, yang kini menjadi sorotan utama bagi investor domestik maupun asing.
Tinggalkan Komentar
Komentar