Periskop.id - Ekonomi dunia terus menunjukkan dinamika pertumbuhan yang luar biasa meskipun di tengah berbagai tantangan geopolitik. Melansir data terbaru dari Visual Capitalist, total output ekonomi global pada 2026 diperkirakan akan mencetak rekor baru dengan menyentuh angka US$123,6 triliun. 

Angka ini mencerminkan volume nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi di planet ini dalam satu tahun kalender.

Dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok, masih menjadi motor utama penggerak kemakmuran global. Namun, pergeseran signifikan mulai terlihat pada posisi negara menengah, di mana negara-negara berkembang mulai mengukuhkan posisi mereka dalam jajaran elit ekonomi dunia.

Amerika Serikat diproyeksikan tetap mempertahankan statusnya sebagai pemimpin ekonomi dunia dengan nilai produk domestik bruto (PDB) mencapai US$31,8 triliun pada 2026. Di posisi kedua, Tiongkok menyusul dengan proyeksi PDB sebesar US$20,7 triliun.

Kecepatan pertumbuhan kedua negara ini sangat mengesankan. Sejak 2021, Amerika Serikat tercatat telah menambahkan nilai ekonomi sebesar hampir US$9 triliun ke dalam total output mereka. 

Sementara itu, Tiongkok berhasil menambahkan sekitar US$4 triliun dalam periode yang sama. Akumulasi pertumbuhan ini menunjukkan bahwa kedua negara tersebut memiliki daya tahan dan kemampuan inovasi yang sangat kuat di sektor industri, teknologi, serta jasa.

Berdasarkan proyeksi dari Dana Moneter Internasional (IMF), berikut adalah peringkat 20 negara dengan PDB nominal terbesar yang menjadi penopang ekonomi global:

PeringkatNegaraProyeksi PDB 2026 (US$ Miliar)
1Amerika Serikat31.821
2Tiongkok20.651
3Jerman5.328
4India4.506
5Jepang4.464
6Britania Raya4.226
7Prancis3.559
8Italia2.702
9Rusia2.509
10Kanada2.421
11Brasil2.293
12Spanyol2.042
13Meksiko2.031
14Australia1.948
15Korea Selatan1.937
16Turki1.576
17Indonesia1.550
18Belanda1.413
19Arab Saudi1.316
20Polandia1.110

Salah satu poin paling menarik dalam proyeksi tahun 2026 adalah posisi India. India kini kokoh di peringkat keempat dunia dengan PDB sebesar US$4,5 triliun, secara resmi melampaui Jepang yang kini harus puas di peringkat kelima dengan US$4,4 triliun. 

Kebangkitan India didorong oleh populasi usia produktif yang masif, peningkatan investasi di sektor manufaktur, serta transformasi digital yang pesat.

Di Eropa, Jerman tetap menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di benua biru sekaligus peringkat ketiga dunia, disusul oleh Britania Raya dan Prancis. Meskipun menghadapi tantangan ketersediaan energi, industri Jerman terbukti masih memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.

Indonesia sendiri terus menunjukkan performa ekonomi yang stabil dan konsisten. Pada 2026, Indonesia diproyeksikan menempati peringkat ke-17 ekonomi terbesar di dunia dengan total PDB mencapai US$1,55 triliun.

Pencapaian ini menempatkan Indonesia di atas negara-negara maju seperti Belanda, Arab Saudi, dan Polandia. Kekuatan ekonomi Indonesia didorong oleh konsumsi domestik yang kuat, hilirisasi industri sumber daya alam, serta peningkatan pembangunan infrastruktur yang mulai membuahkan hasil dalam efisiensi distribusi logistik. 

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, posisi ini sangat strategis dalam memperkuat daya tawar Indonesia di kancah diplomasi internasional, seperti dalam forum G20.