periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja impor Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai US$241,86 miliar. Realisasi itu meningkat 2,83% dibandingkan periode yang sama pada 2024.

‎Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan peningkatan impor tersebut terutama didorong oleh kinerja impor non-migas, sejalan dengan tren ekspor sepanjang tahun 2025.

‎"Jadi sama ya, baik tadi ekspor ataupun impornya untuk non-migas mengalami peningkatan," kata Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (2/2). 

‎Dari total impor tersebut, nilai impor migas tercatat sebesar US$32,77 miliar, turun 9,67% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, impor non-migas mencapai US$209,69 miliar, atau naik 5,11% secara tahunan.

‎Berdasarkan penggunaannya, secara kumulatif peningkatan nilai impor terutama terjadi pada kelompok barang modal. Nilai impor barang modal mencapai US$50,13 miliar, meningkat 20,06% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan andil sebesar 3,56% terhadap total peningkatan impor.

‎Sementara itu, impor barang konsumsi mengalami penurunan 1,35% menjadi US$22,42 miliar. Dari sisi negara dan kawasan asal, peningkatan nilai impor tercatat berasal dari Tiongkok dan Amerika Serikat. Sebaliknya, impor dari Jepang, negara-negara ASEAN, dan Uni Eropa mengalami penurunan.

‎"Nah, kalau kita lihat menurut negara dan kawasan tujuan asal impor, peningkatan nilai impor terjadi dengan Tiongkok dan Amerika Serikat. Sementara itu, impor dari Jepang, negara ASEAN dan juga Uni Eropa mengalami penurunan," jelas Ateng.

‎Pada Desember 2025, total nilai impor Indonesia mencapai US$23,83 miliar, atau meningkat 10,81% dibandingkan Desember 2024. Nilai impor migas pada periode tersebut tercatat sebesar US$3,35 miliar, naik 1,71% secara tahunan.

‎Sementara itu, impor non-migas pada Desember 2025 mencapai US$20,48 miliar, meningkat 12,46% dibandingkan Desember 2024. Ateng menyampaikan bahwa peningkatan nilai impor secara tahunan tersebut terutama didorong oleh kenaikan impor non-migas, dengan andil sebesar 10,55%.

"Nah, peningkatan nilai impor secara tahunan tersebut terutama didorong tadi oleh peningkatan impor non-migas dengan andilnya 10,55%," tutup Ateng.