Periskop.id - Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan performa gemilang perdagangan luar negeri Indonesia sepanjang tahun 2025. Di tengah dinamika ekonomi global, Indonesia berhasil membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$41,05 miliar. 

Angka ini didapat dari total nilai ekspor yang mencapai US$282,91 miliar berbanding dengan total nilai impor sebesar US$241,86 miliar.

Pencapaian ini menandakan ketangguhan ekonomi domestik, di mana pertumbuhan ekspor tahunan (year-on-year/YoY) tercatat naik sebesar 6,15% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, sektor nonmigas menjadi mesin utama pertumbuhan dengan menyumbang US$269,84 miliar atau naik 7,66% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, ekspor migas mengalami kontraksi sebesar 17,69% ke angka US$13,07 miliar.

Secara lebih detail, sektor industri pengolahan mendominasi struktur ekspor Indonesia dengan proporsi mencapai 80,27% atau senilai US$227,10 miliar. 

Sektor pertambangan dan lainnya berada di posisi kedua dengan kontribusi 12,67% (US$35,85 miliar), diikuti oleh migas sebesar 4,62%, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang 2,43% (US$6,88 miliar).

Tiongkok masih menjadi mitra ekspor nonmigas paling setia bagi Indonesia dengan nilai mencapai US$64,82 miliar (24,02%), disusul oleh Amerika Serikat sebesar US$30,95 miliar (11,47%), dan India senilai US$18,31 miliar (6,79%).

Dari sisi impor, Indonesia mencatatkan kenaikan sebesar 2,83% (YoY) dengan total nilai US$241,86 miliar. 

Berdasarkan kategori penggunaan barang, bahan baku atau penolong memegang kendali dengan proporsi sebesar 70% atau senilai US$169,30 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa geliat industri manufaktur di dalam negeri masih sangat aktif dan membutuhkan pasokan bahan baku yang besar.

Kategori barang modal menyusul dengan kontribusi 20,73% (US$50,13 miliar), sementara barang konsumsi hanya mencakup 9,27% dari total impor. Menariknya, sama seperti sisi ekspor, impor migas Indonesia juga turun sebesar 9,67% dibandingkan tahun 2024.

Tiongkok tetap mendominasi sebagai negara asal impor nonmigas terbesar dengan pangsa pasar mencapai 41,60% atau senilai US$86,98 miliar. Angka ini menunjukkan ketergantungan rantai pasok yang sangat kuat terhadap Negeri Tirai Bambu tersebut.

Berikut adalah tabel ringkasan kinerja perdagangan Indonesia:

Neraca Perdagangan Keseluruhan:

  • Total Ekspor: US$282,91 miliar
  • Total Impor: US$241,86 miliar
  • Surplus: US$41,05 miliar

Top 5 Negara Tujuan Ekspor Nonmigas:

  1. Tiongkok: US$64,82 miliar
  2. Amerika Serikat: US$30,95 miliar
  3. India: US$18,31 miliar
  4. Jepang: US$15,51 miliar
  5. Malaysia: US$11,71 Miliar

Top 5 Negara Asal Impor Nonmigas:

  1. Tiongkok: US$86,98 miliar
  2. Jepang: US$14,41 miliar
  3. Amerika Serikat: US$9,83 miliar
  4. Singapura: US$9,44 miliar
  5. Thailand: US$8,82 miliar