periskop.id – Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan pihaknya mengajukan penggunaan skema pembiayaan kredit lunak atau soft loan dengan bunga rendah untuk menopang kebutuhan dana program pangan nasional yang angkanya ditaksir mencapai Rp39,1 triliun.

“Pinjaman tidak bisa hard loan atau kredit komersial. Yang diinginkan itu kredit lunak. Bunganya sekitar 2%, itu sudah aturan pemerintah,” ujar Rizal kepada wartawan di Gedung Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (12/1).

Rizal menjelaskan bahwa pemilihan skema pembiayaan ini sangat krusial. Bulog menghindari penggunaan pinjaman komersial (hard loan) karena tingginya beban bunga yang harus ditanggung, yang justru bisa membebani keuangan negara.

Bunga di kisaran 2% dinilai sebagai angka yang rasional dan efisien. Hal ini sejalan dengan regulasi pemerintah untuk menjaga efektivitas penggunaan anggaran dalam program strategis.

Kebutuhan dana jumbo tersebut rencananya akan dialokasikan untuk membiayai berbagai program stabilisasi, termasuk program beras satu harga nasional yang menjadi prioritas saat ini.

Namun, Rizal mengakui bahwa realisasi skema pembiayaan ini masih menunggu lampu hijau. Kepastian anggaran dari pemerintah pusat menjadi kunci utama sebelum dana tersebut bisa dicairkan.

Terkait teknis pelaksanaan di lapangan, mekanisme subsidi silang yang direncanakan dalam program beras satu harga juga belum dapat berjalan efektif.

“Ini masih tahap menyiapkan barangnya. Pelaksanaannya belum final,” tambah mantan petinggi TNI tersebut merujuk pada kesiapan teknis dan anggaran.

Di tengah pembahasan alot soal anggaran, Bulog membawa kabar baik dari sisi ketersediaan komoditas. Stok beras nasional saat ini diklaim dalam kondisi sangat melimpah.

Saking melimpahnya, pemerintah bahkan berencana membuka keran ekspor. Bulog menargetkan pengiriman beras ke luar negeri hingga 1 juta ton pada tahun ini.

Ekspor tersebut nantinya akan menyasar negara-negara tetangga dan wilayah konflik yang membutuhkan bantuan kemanusiaan, baik melalui skema antarpemerintah (G2G) maupun bisnis (B2B).

“Stok kita banyak. Target ekspor tahun ini sekitar 1 juta ton,” pungkas Rizal.