periskop.id - Rencana pembagian menu kering saat Ramadhan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik perdebatan. Dokter gizi Tan Shot Yen menyoroti salah satu menu yang digadang-gadang akan didistribusikan, yakni telur asin.

Tan menyatakan telur asin bukan pilihan pangan yang aman untuk anak-anak. Bahkan, menurut dia, makanan tersebut tidak direkomendasikan untuk orang dewasa.

“Telur asin tidak saya anjurkan untuk orang dewasa. Sekarang justru disiapkan untuk anak-anak,” kata Tan saat diskusi Program MBG yang digelar MBG Watch di Cikini, Jakarta, Jumat (6/2).

Menurut Tan, telur asin merupakan pangan dengan kandungan natrium signifikan yang selama ini justru ia batasi untuk pasien dewasa. Ia merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang menempatkan makanan asin dan diawetkan dalam kategori pangan berisiko.

Sorotan Tan tidak berhenti pada menu. Ia juga menyinggung sikap ahli gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai tetap mempertahankan telur asin dengan alasan perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Tan menilai pendekatan tersebut mereduksi persoalan gizi menjadi sekadar hitung-hitungan angka. 

“Begitu kandungan natrium melewati 20% AKG, pangan itu sudah masuk kategori tidak sehat,” ujarnya.

Dokter gizi ini menekankan bahwa asupan natrium pada anak tidak berdiri sendiri. Konsumsi garam berasal dari berbagai sumber dalam satu hari, mulai dari lauk, jajanan, hingga makanan olahan lain. Karena itu, pembenaran berbasis satu menu dinilai mengabaikan risiko akumulasi natrium yang berlebihan.

Ia kemudian menarik perbandingan dengan standar internasional. UNICEF mengklasifikasikan makanan tinggi gula dan garam sebagai pangan tidak sehat bagi anak usia 6–23 bulan. Sementara World Health Organization secara tegas menyatakan makanan bayi tidak boleh mengandung tambahan garam maupun gula karena fungsi ginjal yang belum berkembang optimal.

Tan menilai perdebatan soal menu MBG seharusnya menjadi pintu evaluasi kebijakan gizi secara menyeluruh.

“Ini bukan soal memenuhi angka di atas kertas. Ini soal keselamatan anak dan dampaknya ke depan. Jangan dibalik logikanya,” tutupnya.