banner-sheroes-yoga
Ekonomi

Purbaya: Fiskal Ekspansif, Defisit Tetap Dijaga di Bawah 3% PDB

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kebijakan fiskal ekspansif 2026 tetap disiplin dengan defisit di bawah 3% PDB, mendorong pertumbuhan ekonomi RI hingga 6% pada kuartal pertam...

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, thr asn
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2). Periskop.id/Siti Ayu Rachma.
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal meski menjalankan kebijakan anggaran ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ia menjelaskan, APBN difungsikan sebagai instrumen kontra-siklus untuk membalikkan perlambatan ekonomi menjadi fase pertumbuhan yang lebih kuat.

Pemerintah sedikit memperlebar defisit dari sekitar 2,5% menjadi 2,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) guna memberikan stimulus tambahan bagi perekonomian.

"Jadi kita sedikit mengorbankan fiskal dalam sisi defisit dari 2,5% sekian ke arah 2,9%. Itu adalah program kontra-siklus yang kita kerjakan untuk membalik ekonomi dari yang turun, sekarang jadi mulai naik. Tapi itu kita lakukan tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal," ucap Purbaya dalam acara Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).

Meski demikian, ia menyebut defisit tetap dijaga di bawah ambang batas 3% PDB dan rasio utang dinilai masih dalam kondisi terkendali. Menurutnya, langkah ekspansif tersebut dilakukan tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian fiskal.

"Defisit masih kita jaga di 3% dari PDB. Dan utangnya juga masih terkendali. Jadi kita juga berhasil membalik arah ekonomi dengan fiskal yang tetap terjaga," tambahnya.

Jika dilihat dari momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat pada 2025, tren tersebut akan berlanjut hingga 2026. Ia pun memproyeksikan di kuartal pertama ekonomi RI dapat tumbuh sekitar 5,5% sampai 6%.

"Itu seperti angka biasa ya. Tapi ini angka yang luar biasa. Karena kalau ini terjadi, berarti kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5%," tegasnya.

Pada kuartal I 2026, belanja negara diproyeksikan mencapai Rp809 triliun sebagai bagian dari dorongan konsumsi dan investasi. Pemerintah juga mempercepat sejumlah program prioritas, termasuk percepatan belanja MBG sebesar Rp62 triliun serta paket stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat.

"Ada belanja dan lain-lain. Ada juga paket stimulus," imbuhnya.

Untuk keseluruhan 2026, kata Purbaya, pendapatan negara diperkirakan menembus Rp3.000 triliun lebih dengan defisit sekitar Rp689 triliun. Pemerintah tetap mempertahankan sikap fiskal ekspansif guna memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

"Untuk tahun 2026 kita tetap fiskalnya ekspansif. Dengan pendapatan negara sebesar Rp3.000 triliun lebih dan defisit sebesar Rp689 triliun," pungkasnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai fiskal, defisit, dan ekonomi dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.