Periskop.id - Bank Indonesia (BI) secara resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam tinjauan kebijakan moneter yang berlangsung pada Kamis (19/2). 

Keputusan ini menandai kali kelima berturut-turut bank sentral menahan suku bunga di level yang sama, sejalan dengan ekspektasi pasar yang memprediksi BI akan tetap fokus pada stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.

Langkah ini diambil menyusul penurunan kepercayaan investor yang sempat memicu tekanan pada mata uang Garuda. Rupiah sempat anjlok ke rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat pada bulan lalu, dipicu oleh kekhawatiran pasar mengenai independensi bank sentral. 

Hingga saat ini, posisi rupiah masih berada di dekat level terendah tersebut, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di antara negara berkembang Asia sepanjang tahun berjalan.

Melansir laporan Reuters, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers daring menyatakan bahwa kondisi nilai tukar saat ini tidak mencerminkan kekuatan ekonomi nasional yang sebenarnya. 

Menurut penilaian BI, posisi rupiah saat ini dikategorikan sebagai undervalued jika dibandingkan dengan indikator fundamental ekonomi Indonesia.

Sebagai langkah antisipasi, Perry menegaskan bahwa bank sentral akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing. Langkah intervensi ini tidak hanya dilakukan di pasar dalam negeri, tetapi juga mencakup pasar luar negeri guna memastikan volatilitas tetap terkendali.

Perry menyoroti adanya ketidakpastian pasar global sebagai faktor utama yang menekan nilai tukar.

“Tentu kalau kita melihat pergerakan nilai tukar, ada dua faktor utama, yaitu faktor fundamental seperti indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil, dan indikator lainnya, yang semuanya menunjukkan bahwa rupiah seharusnya lebih stabil dan cenderung menguat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa tekanan yang ada saat ini bersifat situasional akibat sentimen eksternal.

“Pertanyaannya tentu pada faktor teknis, faktor premi risiko, terutama yang terjadi secara global, yang memang tampak menyebabkan tekanan jangka pendek pada nilai tukar,” tambah Perry.

Dalam rapat kebijakan tersebut, BI menetapkan suku bunga acuan 7-day reverse repo rate tetap di level 4,75%. 

Keputusan ini sesuai dengan proyeksi mayoritas dari 29 ekonom yang disurvei oleh Reuters, di mana 27 di antaranya memperkirakan kebijakan bertahan ini, sementara dua lainnya memiliki pandangan berbeda.

Jika menilik ke belakang, BI sebenarnya cukup agresif dalam melakukan pelonggaran moneter. Bank sentral telah memangkas suku bunga acuan total sebanyak 150 basis poin dalam periode September 2024 hingga September 2025. Namun, siklus pemotongan tersebut harus terhenti sementara waktu akibat fluktuasi Rupiah yang tajam.

Perry memberikan sinyal bahwa arah kebijakan moneter ke depan tetap terbuka untuk pelonggaran lebih lanjut. Ia menegaskan kembali bahwa BI akan melanjutkan pemangkasan suku bunga segera setelah tekanan terhadap nilai tukar Rupiah mulai mereda dan kondisi pasar kembali kondusif.

Situasi pasar saat ini juga sangat dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap kebijakan domestik. Sentimen negatif muncul akibat kekhawatiran pasar bahwa agenda pertumbuhan ekonomi tinggi yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto dapat memberikan beban pada kesehatan fiskal negara.

Selain isu anggaran, pelaku pasar juga menyoroti masalah independensi bank sentral serta transparansi di pasar saham Indonesia. Gabungan faktor internal dan eksternal inilah yang menciptakan premi risiko lebih tinggi, sehingga Bank Indonesia memilih untuk bersikap konservatif demi menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi makro secara keseluruhan.