periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara terkait pernyataan yang disampaikan oleh alumni penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, atau yang akrab disapa Tyas yang mendadak menjadi pusat perhatian warganet.
Purbaya menyebut, di tengah berbagai tantangan global, masih ada optimisme terhadap masa depan Indonesia. Ia menyebut sindiran negatif terhadap Indonesia tidak mencerminkan kondisi secara keseluruhan.
"Temen-temen ada yang ngeledek, termasuk ada yang kemarin tuh, yang dibilang anaknya jangan warga negara Indonesia," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, Senin (23/2).
Purbaya menyatakan komentar yang bernada sindiran yang menyarankan agar anak tidak menjadi warga negara Indonesia dinilai pesimistis. Ia menilai hal tersebut justru tidak mencerminkan potensi besar yang dimiliki Indonesia.
Mantan Ketua LPS itu meyakini dalam dua dekade ke depan Indonesia akan mengalami kemajuan signifikan.
"Mungkin 20 tahun lagi dia akan nyesel, karena 20 tahun lagi kita akan bagus banget," tegas Purbaya.
Sebelumnya, media sosial kembali menjadi panggung perdebatan panas setelah video Dwi Sasetyaningtyas tersebar luas di platform X dan Threads. Dalam unggahan tersebut, ia memperlihatkan paspor Inggris milik anaknya sambil menyampaikan keinginan agar buah hatinya memiliki kewarganegaraan dengan ‘paspor kuat’.
Ucapan yang dianggap sensitif itu menuai kritik tajam, apalagi setelah latar belakangnya sebagai awardee LPDP terungkap. Publik menilai, figur dengan rekam jejak akademik cemerlang dan dukungan dana negara semestinya lebih berhati-hati dalam bertutur di ruang publik.
Tyas mengunggah sebuah video di akun media sosial pribadinya. Dalam video tersebut, ia tampak sangat emosional saat membuka sebuah paket yang telah dinantinya selama empat bulan. Paket tersebut bukanlah berisi barang mewah, melainkan dokumen resmi dari Home Office Inggris yang menyatakan bahwa anak keduanya telah resmi menjadi warga negara Inggris (British Citizen).
Bersamaan dengan surat itu, ia juga menunjukkan paspor Inggris milik sang buah hati dengan rona bahagia.
Namun, yang menjadi pemantik amarah netizen bukanlah keberhasilan sang anak mendapatkan kewarganegaraan asing, melainkan narasi yang menyertainya.
Tyas secara gamblang menyatakan keinginannya agar anak-anaknya memiliki "paspor kuat" sebagai warga negara asing (WNA). Ia berujar, “Aku tahu dunia terlihat tidak adil, tapi cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,”.
Kalimat ini dianggap sangat sensitif, terutama karena diucapkan oleh seseorang yang menempuh pendidikan tinggi dengan dukungan dana dari pajak rakyat Indonesia.
Meski video tersebut segera dihapus, jejak digitalnya telah terlanjur tersebar luas di platform X dan Threads, memicu gelombang kritik yang tidak terelakkan.
Tinggalkan Komentar
Komentar