periskop.id - Perubahan pola makan selama bulan Ramadan kerap memicu keluhan kesehatan, mulai dari gangguan lambung hingga lonjakan gula darah. Guru Besar Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Prof. Trina Astuti, menilai persoalan tersebut umumnya bukan disebabkan oleh puasa itu sendiri, melainkan pola konsumsi yang tidak tepat saat berbuka dan sahur.

Menurut Trina, tubuh memerlukan adaptasi setelah lebih dari delapan jam tidak menerima asupan makanan dan minuman. Karena itu, cara berbuka yang terburu-buru justru bisa menimbulkan masalah baru.

“Saat berpuasa perut kosong lebih dari delapan jam, maka saat berbuka harus makan perlahan supaya perut tidak kaget. Minum air putih atau teh manis hangat, dilanjutkan dengan kurma, baru makanan utama setelah salat Maghrib. Konsumsi ini dapat memberikan energi secara berangsur,” ujarnya di Jakarta, dikutip dari Antara, Senin (23/2).

Ia menjelaskan, kebiasaan menyantap makanan berat dalam jumlah besar sekaligus saat azan Maghrib berkumandang dapat memicu perut begah, nyeri ulu hati, hingga lonjakan gula darah. Kondisi ini berisiko lebih tinggi pada individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes atau gangguan lambung.

Trina menekankan pentingnya menyesuaikan jenis makanan dengan kondisi kesehatan masing-masing. Bagi penderita diabetes, misalnya, ia menyarankan pemilihan sumber karbohidrat dengan indeks glikemik rendah, di bawah 55, agar kadar gula darah tetap stabil.

“Contohnya beras basmati, beras merah, oat, roti gandum, atau pasta gandum utuh. Proteinnya pun harus seimbang, mencakup protein nabati dan hewani, serta dilengkapi buah dan sayur sebagai sumber serat,” katanya.

Selain jenis makanan, proporsi juga perlu diperhatikan. Ia menyarankan agar porsi karbohidrat saat sahur tidak berlebihan, sementara saat berbuka justru memperbanyak sumber protein untuk membantu pemulihan energi dan menjaga rasa kenyang lebih lama. Pola ini dinilai dapat membantu tubuh tetap bertenaga tanpa memicu rasa lemas berlebihan di siang hari.

Tak kalah penting adalah pengaturan cairan. Trina mengingatkan bahwa kebutuhan air harian tetap harus terpenuhi meski waktu minum terbatas. Ia menyarankan pembagian konsumsi air putih menjadi dua gelas saat berbuka, empat gelas pada malam hari, dan dua gelas saat sahur.

“Hindari teh, kopi, dan gorengan berlebihan saat sahur maupun berbuka puasa,” tuturnya.

Ia menambahkan, kesadaran untuk menjaga pola makan selama Ramadan bukan hanya demi kelancaran ibadah, tetapi juga investasi kesehatan jangka panjang. Ketidakseimbangan asupan gizi yang berlangsung selama satu bulan penuh berpotensi menimbulkan dampak berkepanjangan, seperti peningkatan berat badan yang tidak terkontrol hingga memburuknya penyakit kronis.

Dengan perencanaan menu yang tepat dan pengaturan porsi yang bijak, Trina optimistis puasa justru dapat menjadi momentum memperbaiki pola hidup.

“Puasa bisa menjadi kesempatan untuk melatih disiplin makan. Kuncinya ada pada pilihan dan cara kita mengatur asupan,” ujarnya.