Periskop.id - Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengajak para periset Indonesia, untuk mengoptimalkan pemanfaatan dana abadi penelitian sebesar Rp13,9 triliun. Hal ini diperlukan guna mendorong inovasi yang berdampak nyata bagi kemajuan industri nasional. 

Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto mengungkapkan, ketersediaan anggaran riset saat ini masih sangat mencukupi untuk mendukung berbagai proyek strategis. 

"Saat ini dana abadi penelitian kami punya Rp13,99 triliun dan setiap tahun ada dana yang cukup longgar Rp900 miliar dengan saldo lebih dari Rp2 triliun. Itu bisa kita optimalkan dan kita manfaatkan sebesar-besarnya,"kata Ayom dalam kegiatan Kick Off Program Bestari Saintek dan Peluncuran Program Semesta Skema Pendanaan APBN Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (29/4). 

Meski sejak 2013 LPDP telah mendanai lebih dari 3.300 proyek riset dengan total dana Rp3 triliun, Ayom menyebutkan, akses tersebut baru dinikmati oleh sekitar 17.000 periset di seluruh Indonesia. 

Kondisi tersebut, lanjut dia, mendorong LPDP untuk terus memperluas jangkauan akses pendanaan, agar dana abadi yang dikelola negara benar-benar bisa dirasakan manfaatnya secara berkelanjutan. Baik oleh para dosen maupun mitra industri. 

Sebagai bagian dari perbaikan kualitas fasilitasi, LPDP kini menawarkan skema yang lebih ramah bagi penelit,i dengan memangkas berbagai kendala administratif yang selama ini dianggap menyulitkan.

"Kami di LPDP menawarkan fleksibilitas, baik itu secara tahun anggaran, standar pendanaannya, kemudian pelaporannya kami mudahkan," ujar Ayom.

Namun, Ayom mengingatkan, fleksibilitas dan kemudahan birokrasi tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kepercayaan terhadap output atau hasil riset yang dihasilkan oleh para peneliti.

Diketahui, LPDP kini menitikberatkan pada transformasi paradigma riset industri yang tidak hanya berakhir sebagai laporan di atas meja, melainkan harus memiliki nilai guna bagi operasional dunia usaha.

Sejalan dengan arah kebijakan pemerintah, fokus pendanaan akan diarahkan pada bidang-bidang spesifik yang memiliki keunggulan kompetitif. Terutama pada sektor pangan, kesehatan, dan energi.

Riset Kampus
Sekadar informasi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Lembaga Pengelola Dana Penelitian (LPDP) mengucurkan dana sebesar Rp57 miliar, untuk mendanai 122 program riset kampus guna memperkuat ekosistem inovasi nasional.

Kucuran dana tersebut disalurkan melalui Program Bestari Saintek yang secara resmi diluncurkan, bersamaan dengan payung Program Semesta Skema Pendanaan APBN Tahun 2026 di Jakarta, Rabu.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani dalam kegiatan tersebut menjelaskan, program ini diminati secara antusias dan berhasil menjaring inovasi akar rumput dengan seleksi yang sangat kompetitif.

Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 122 tim periset yang terpilih melibatkan 854 dosen dan tenaga kependidikan. Serta didukung penuh oleh 341 mitra utama dan pendukung dari berbagai sektor.

Secara kelembagaan, perguruan tinggi pengampu riset ini didominasi oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebesar 57,8%. Sementara Perguruan Tinggi Swasta (PTS) juga menyumbang angka yang tak kalah signifikan sebesar 42,2%.

"Angka ini menegaskan peran krusial PTN dan juga PTS sebagai penggerak riset nasional sekaligus memperlihatkan geliat serta kontribusi banyak PTS yang semakin aktif di dalam kegiatan riset nasional kita," kata Najib.

Najib melanjutkan, riset-riset tersebut terdistribusi ke dalam delapan sektor strategis, dengan sektor Pangan dan Pertanian menjadi yang terbanyak (45 tim), disusul Sosial Humaniora, Seni Budaya, dan Pendidikan (30 tim), serta Kemaritiman (12 tim).

Selanjutnya, Teknologi Informasi dan Komunikasi (9 tim), Kesehatan dan Obat (8 tim), Kebencanaan (8 tim), Energi dan Energi Baru Terbarukan (6 tim), serta Material Maju (4 tim).

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengingatkan, agar para akademisi di kampus tidak menjadikan publikasi ilmiah sebagai garis akhir dari sebuah penelitian.

"Yang salah adalah ketika kita berhenti sampai pada jurnal ilmiah. Itu salah, oh sudah cukup selesai riset? Tidak, riset harus terus menerus," ucap Brian Yuliarto.