periskop.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) valas pertama di tahun 2026 mendapat respons sangat kuat dari investor global. Total penerbitan mencapai US$2,7 miliar, dengan permintaan (orderbook) yang masuk menembus US$7,7 miliar.
"Pada awal tahun 2026 penerbitan SBN valas mencatatkan permintaan yang kuat dari investor global. Pemerintah berhasil menerbitkan global bond sebesar US$2,7 miliar dengan memanfaatkan momentum likuiditas awal tahun secara prudent dan terukur," kata Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, ditulis Selasa (24/2).
Penerbitan dilakukan dalam tiga tenor, yakni RI0231 tenor 5 tahun senilai US$1,1 miliar dengan imbal hasil (yield) 4,4%. RI0236 tenor 10 tahun senilai US$1,1 miliar dengan yield 5% dan RI0256 tenor 30 tahun senilai US$500 juta dengan yield 5,5%.
Adapun total permintaan investor mencapai US$7,7 miliar dengan bid-to-cover ratio tercatat solid, masing-masing 2,6 kali untuk tenor 5 dan 10 tahun, serta 3,8 kali untuk tenor 30 tahun. Pemerintah juga berhasil menekan final yield sekitar 30 basis poin (bps) di seluruh tenor, didukung permintaan yang kuat.
"Capaian ini menunjukkan minat investor yang masih cukup tinggi terhadap SBN Indonesia," jelas Juda.
Secara komposisi investor, sektor perbankan mendominasi pembelian pada seluruh tenor. Dari sisi regional, investor Asia menjadi kontributor terbesar, disusul oleh investor dari Amerika Serikat dan kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA).
"Partisipasi investor didominasi oleh investor Asia serta investor perbankan dan manager aset global yang mencerminkan basis investor yang cukup stabil," terang dia.
Tinggalkan Komentar
Komentar