Periskop.id - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengkaji penyesuaian harga eceran tertinggi (HET) MinyaKita. Hal ini diperlukan, menyusul kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) guna menjaga stabilitas pasokan dan melindungi daya beli masyarakat.
"Itu masih dalam kajian, sih, masih dalam kajian," kata Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy dikutip Rabu (4/3).
Kajian dilakukan setelah muncul pernyataan, harga crude palm oil saat ini berada di atas harga yang menjadi dasar penetapan harga MinyaKita di tingkat konsumen yakni Rp15.700 per liter. Menurutnya, salah satu pertimbangan utama dalam kajian adalah pergerakan harga global minyak sawit mentah serta kondisi produksi nasional sebagai produsen terbesar dunia.
Dalam kebijakan domestic market obligation (DMO), sebanyak 35% alokasi MinyaKita diserahkan pengelolaannya kepada Perum Bulog untuk distribusi. Bulog bertugas memasok MinyaKita ke pengecer di pasar tradisional sehingga harga dapat dijaga tetap stabil di kisaran Rp15.700 per liter.
Sarwo menyebutkan berdasarkan pemantauan di pasar yang mendapat pasokan Bulog, harga MinyaKita relatif merata dan sesuai ketentuan harga eceran tertinggi. Sementara itu, di luar jaringan distribusi Bulog masih ditemukan harga berkisar Rp17.000 hingga Rp18.000 per liter, meski jumlahnya disebut tidak banyak.
Bapanas menegaskan, realisasi penyaluran domestic market obligation terus dipantau agar distribusi semakin merata dan tidak menimbulkan disparitas harga signifikan.Terkait kajian penyesuaian harga eceran tertinggi, Bapanas menyebut akan melibatkan pelaku usaha minyak goreng dalam pembahasan lanjutan.
Namun hingga kini, pemerintah belum memanggil produsen karena masih mengevaluasi kondisi lapangan agar kebijakan yang diambil tidak memberatkan masyarakat.
"Belum, (ada pemanggilan bagi produsen). Ini kan baru wacana. Kita lihat dulu di lapangan. Jangan sampai kita menaikkan tapi akan memberatkan masyarakat. Jadi kita masih dalam kajian dulu. Ya, baru rencana," ujar Sarwo.
Pasokan CPO Jelang Lebaran
Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan produksi crude palm oil (CPO) nasional dalam kondisi aman dan mencukupi, untuk memasok pembuatan minyak goreng sehingga memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran 2026.
"Produksi dan stok CPO nasional dalam kondisi aman untuk mengantisipasi lonjakan permintaan minyak goreng selama Ramadhan dan jelang Idul Fitri 1447 Hijriah," ucap Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Abdul Roni Angkat di Jakarta, Senin.
Dia menyampaikan, sebagian besar produksi minyak goreng nasional berbasis bahan baku CPO, sehingga kecukupan pasokan di tingkat hulu menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas ketersediaan di pasar. Khususnya saat permintaan meningkat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Roni menuturkan, memasuki kuartal pertama 2026, stok dan produksi di tingkat hulu telah disiapkan untuk menghadapi peningkatan kebutuhan yang secara historis naik 10–15% selama Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
“Koordinasi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Perdagangan dan Satgas Pangan, terus diperkuat guna mencegah potensi hambatan distribusi dari pabrik hingga ke tahap ” ujar Roni.
Melalui Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan menegaskan kekuatan sektor hulu kelapa sawit menjadi fondasi dalam menjaga stabilitas pasokan minyak goreng nasional, sekaligus mendukung kebijakan energi melalui Program Mandatori Biodiesel B40/B50.
Berdasarkan hasil monitoring lapangan serta sinkronisasi data spasial perkebunan, produksi CPO nasional tahun 2026 menunjukkan tren positif, di tengah kebijakan pemerintah menjaga keseimbangan alokasi CPO untuk kebutuhan pangan domestik dan energi.
Roni menambahkan, pengaturan ritme pasokan dilakukan secara cermat. Ini dilakukan agar peningkatan kebutuhan biodiesel tidak mengurangi kuota bahan baku minyak goreng, baik curah maupun kemasan (Minyakita).
Sistem pemantauan berbasis digital juga dioptimalkan untuk melacak distribusi Tandan Buah Segar (TBS) dari kebun ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Terutama di sentra produksi seperti Riau, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sendiri menegaskan, stabilitas pasokan pangan, khususnya minyak goreng, menjadi prioritas utama pemerintah. Ia memastikan produksi CPO nasional dalam kondisi aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk menghadapi lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan.
"Di saat yang sama, komitmen terhadap program biodiesel tetap berjalan secara terukur dan terkendali,” ujar Mentan.
Tinggalkan Komentar
Komentar