periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan target pertumbuhan ekonomi China tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.
Menurutnya, perekonomian nasional saat ini masih didominasi oleh aktivitas domestik. Sekitar 90% kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi berasal dari permintaan dalam negeri, sementara sekitar 10% lainnya berasal dari sektor eksternal seperti ekspor.
Dengan komposisi tersebut, katanya, perlambatan pada sektor eksternal dinilai tidak akan terlalu memengaruhi kinerja ekonomi secara keseluruhan selama permintaan domestik tetap terjaga.
"Pertama, ekspor atau domestik ekonomi memberi kontribusi sekitar 90% ke domestik demand kontribusinya 90% ke perekonomian. Jadi yang setelah kira-kira 10%. Kalau saya jaga yang 90%, yang 10% melambat pun enggak terlalu apa-apa," ujar Purbaya dalam media briefing, Jakarta, dikutip Sabtu (7/3).
Meski demikian, pemerintah tetap berupaya meminimalkan potensi dampak terhadap kinerja ekspor Indonesia ke China. Salah satunya dengan memperkuat daya saing produk nasional di pasar tersebut.
"Tapi untuk pemerintah, Cina kan pasti dampak kita juga yang 10% tidak ada. Kita harus minimasikan itu dengan cara apa meningkatkan dasa inkode kita di pasar Cina dengan berbagai macam cara," terang dia.
Mantan Ketua LPS itu juga menilai bahwa meskipun target pertumbuhan ekonomi China diturunkan, laju ekspansi ekonomi negara tersebut masih tergolong tinggi. Pertumbuhan sekitar 4,5%-5% dinilai tetap menunjukkan besarnya kapasitas ekonomi dan potensi pasar di negara tersebut.
"Tapi gini, Cina kan udah besar ekonomi ya. Tunggu 4,5% 4,5% Masih cepat. Bukan melambat. Kalau 4,5% kan demandnya masih gede," tutur dia.
Karena itu, pemerintah akan mendorong para eksportir nasional untuk memanfaatkan peluang pasar di China dengan meningkatkan daya saing produk. Dukungan juga akan diberikan melalui berbagai instrumen pembiayaan ekspor yang dimiliki pemerintah, termasuk melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).
"Jadi potensi market kita di sana masih ada asal kita pintar-pintar menjaga dasa inkode kita. Nanti kita akan bantu perusahaan-perusahaan eksporter untuk bisa bersaing lewat LPEI dan alat instrument yang kita punya," jelas dia.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah China menurunkan target pertumbuhan ekonominya ke level terendah sejak 30 tahun di kisaran 4,5% hingga 5% di tahun 2026.
Tinggalkan Komentar
Komentar