Periskop.id - Gabungan Pelaku Usaha Peternak Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) menilai, impor sapi masih diperlukan untuk menutup defisit pasokan daging sapi nasional. Impor juga dibutuhkan dalam mendukung peningkatan produksi dalam negeri.

Direktur Eksekutif Gapuspindo Djoni Liano mengatakan, kebutuhan daging sapi nasional masih lebih besar dibandingkan kemampuan produksi domestik. Karena itu, impor menjadi salah satu instrumen untuk menjaga ketersediaan pasokan.

“Kalau untuk sapi memang kita defisitnya masih tinggi. Jadi tidak ada jalan lain, kita harus melakukan impor,” kata Djoni di Jakarta, Senin (30/3). 

Ia menyebutkan, kebutuhan daging sapi nasional pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 785.000 ton. Sementara kontribusi pelaku usaha yang tergabung dalam Gapuspindo baru sekitar 14–15% atau sekitar 120.000 ton dari total kebutuhan tersebut.

Menurut dia, selisih antara kebutuhan dan produksi dalam negeri tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menetapkan volume impor setiap tahun.

“Defisitnya itu yang boleh diimpor untuk mengisi kekurangan tadi. Jadi bukan berarti dibatasi sekian, tapi dihitung dari kebutuhan nasional dan produksi dalam negeri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, impor yang dilakukan saat ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mendukung peningkatan populasi sapi di dalam negeri melalui pengadaan sapi indukan. Menurut dia, rencana impor sapi dari Brasil yang berupa sapi indukan dinilai dapat membantu memperkuat produksi domestik dalam jangka panjang.

“Itu bagus, karena sapi indukan untuk meningkatkan populasi dalam negeri, bukan untuk dipotong langsung,” imbuhnya.

Meski begitu, ia menilai pemerintah perlu memastikan skema distribusi dan pengelolaan sapi impor tersebut berjalan efektif agar manfaatnya dapat dirasakan oleh peternak.

“Yang penting dipikirkan model bisnisnya seperti apa, apakah didistribusikan ke peternak atau dikembangkan dulu di fasilitas pemerintah,” serunya. 

Djoni menambahkan, impor sapi hidup dinilai memiliki nilai tambah lebih besar dibandingkan impor daging beku karena melibatkan aktivitas ekonomi di dalam negeri. Menurut dia, sapi hidup yang digemukkan di dalam negeri dapat menyerap tenaga kerja, memanfaatkan pakan lokal, serta menghasilkan produk turunan seperti kulit.

“Nilai tambahnya cukup besar, mulai dari penyerapan tenaga kerja, penggunaan pakan lokal, sampai hasil samping seperti kulit,” tuturnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan kondisi pasar daging sapi juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Termasuk dinamika global yang dapat mempengaruhi biaya logistik dan ketersediaan pasokan.

“Semua komoditas itu tergantung daya beli. Kalau daya beli kuat, pasar akan tetap bergerak,” ucap Djoni.

Peningkatan Produksi
Sebelumnya, pemerintah menargetkan peningkatan produksi protein hewani dalam negeri sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, termasuk melalui pengembangan populasi ternak dan peningkatan produktivitas peternak.

Kementerian Koordinator Bidang Pangan menargetkan, penambahan populasi sapi sebanyak 2 juta ekor hingga 2029, sebagai langkah strategis memperkuat produksi daging dan susu nasional. Selain itu, kebijakan impor juga diarahkan untuk menutup kekurangan pasokan dalam jangka pendek sembari menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Gapuspindo berharap kebijakan pemerintah ke depan dapat terus menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan nasional dan penguatan produksi dalam negeri, guna mendukung ketahanan pangan.

Pasokan Terjaga
ia juga memastikan, pasokan sapi nasional tetap terjaga meski terdapat dinamika geopolitik global yang berpotensi mempengaruhi biaya logistik.

Djoni mengatakan, hingga saat ini dampak kondisi geopolitik global terhadap pasokan dan harga daging sapi di dalam negeri belum dirasakan secara signifikan.

“Belum. Kita belum rasakan langsung. Belum kelihatan ujungnya,” kata Djoni di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan Indonesia selama ini masih mengandalkan impor sapi dari sejumlah negara, terutama Australia. Karena itu, perubahan kondisi global berpotensi mempengaruhi biaya distribusi dalam jangka menengah dan panjang. “Pengaruh itu ada, terutama ke logistik yang menjadi lebih mahal,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan kondisi tersebut belum berdampak langsung terhadap ketersediaan pasokan di pasar domestik. Karena itu, lanjutnya, pemerintah dan pelaku usaha tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan agar distribusi daging sapi tetap berjalan.

Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (PIHPS) pada Senin, rata-rata harga daging sapi tercatat mengalami penurunan. Daging sapi kualitas 1 berada di level Rp148.450 per kilogram (kg) atau turun 1,43% dan daging sapi kualitas 2 berada di Rp139.950 per kg atau turun 1,55% dibandingkan satu hari sebelumnya.

Djoni menambahkan, potensi perubahan permintaan dari negara lain memang dapat mempengaruhi pasokan sapi global. Namun mekanisme pasar saat ini masih berjalan dan kebutuhan dalam negeri tetap dapat dipenuhi.

“Kalau negara lain meningkatkan impor, kita bisa terdampak dari sisi harga atau pasokan, tapi sejauh ini masih terkendali,” ungkapnya.

Ia juga menilai faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga di dalam negeri tetap berasal dari daya beli masyarakat. “Semua komoditas itu tergantung daya beli. Kalau daya beli kuat, pasar akan tetap bergerak,” tutur Djoni.

Sementara itu, pemerintah memastikan ketersediaan pangan termasuk daging sapi nasional, dalam kondisi aman saat periode permintaan tinggi pada Lebaran 2026.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat ketersediaan daging ruminansia nasional hingga 18 Maret 2026 mencapai sekitar 226 ribu ton. Jumlah ini sekitar tiga kali lipat dari kebutuhan bulanan yang diperkirakan sekitar 65,8 ribu ton.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebelumnya juga menyampaikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika global. Antara lain karena sumber pasokan tidak bergantung pada satu kawasan.

Gapuspindo berharap koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha terus diperkuat agar pasokan tetap stabil dan ketersediaan daging sapi dapat terus terpenuhi.