periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 17 April 2026, ke level Rp17.188 per dolar AS. Pelemahan sebesar 50 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di Rp17.138, seiring penguatan indeks dolar AS di tengah meredanya tensi geopolitik global.

“Rupiah sore ini ditutup melemah 50 poin di level Rp17.188 dari penutupan sebelumnya Rp17.138, sebelumnya sempat melemah 60 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Jumat (17/4).

Dari eksternal, indeks dolar AS menguat didorong optimisme bahwa konflik Timur Tengah berpotensi segera mereda. Gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan peluang pertemuan dengan Iran untuk membahas penyelesaian konflik dalam waktu dekat.

Dalam perkembangan terbaru, Iran dilaporkan menawarkan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun sebagai bagian dari negosiasi. Meski demikian, para negosiator dari AS dan Iran kini cenderung mengarah pada kesepakatan sementara guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut, alih-alih perjanjian damai komprehensif.

Konflik yang telah berlangsung selama tujuh pekan tersebut sebelumnya sempat menutup Selat Hormuz dan mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dunia. Meski ada sinyal deeskalasi, ketidakpastian masih membayangi pasar energi global, terlebih dengan dinamika negosiasi yang belum sepenuhnya solid.

Dari sisi data ekonomi AS, klaim pengangguran awal tercatat turun menjadi 207 ribu untuk pekan yang berakhir 11 April, lebih rendah dari perkiraan 215 ribu. Namun, data ketenagakerjaan dan JOLTS menunjukkan aktivitas perekrutan dan pemutusan hubungan kerja yang masih relatif rendah.

Sementara itu, pejabat Federal Reserve menegaskan bahwa kebijakan moneter saat ini masih berada di jalur yang tepat. Presiden The Fed New York John Williams menilai konflik Iran berpotensi mendorong kenaikan inflasi, sehingga mendukung sikap kebijakan yang tetap ketat.

“Perkembangan ini menunjukkan tekanan eksternal masih cukup kuat, terutama dari sisi dolar AS dan kebijakan moneter global,” jelas Ibrahim.

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih relatif solid. Inflasi tetap terjaga dalam target Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga didukung momentum Ramadan dan Lebaran, serta neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus.

Namun demikian, tekanan mulai muncul akibat eskalasi konflik global yang mendorong harga minyak melampaui asumsi APBN. Harga minyak Brent bahkan sempat menyentuh level US$118 per barel dalam beberapa pekan terakhir, meningkatkan risiko terhadap beban fiskal.

Pemerintah sendiri menegaskan tidak akan menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi guna menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% terhadap PDB, meskipun diperkirakan berada di kisaran 2,8%-2,9% pada 2026.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.180-Rp17.220,” tutup Ibrahim.