Periskop.id - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga kebijakan utamanya dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (22/4).
Prediksi ini didasarkan pada hasil survei Reuters terhadap 31 ekonom yang secara bulat memproyeksikan tidak adanya perubahan pada tingkat suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Perubahan proyeksi ini terjadi seiring dengan meningkatnya guncangan energi global akibat perang Iran yang mendorong kenaikan inflasi serta menekan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut menandai pergeseran tajam dalam ekspektasi pasar.
Sebelumnya, BI sempat memberikan sinyal mengenai adanya ruang pelonggaran kebijakan moneter sebelum pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu.
Namun, sikap melonggar atau dovish tersebut secara resmi ditinggalkan pada Maret ketika tensi konflik semakin memanas.
Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah Jadi Pertimbangan Utama
Saat ini, Bank Indonesia dihadapkan pada pilihan yang terbatas selain mempertahankan suku bunga lebih lama. Inflasi nasional tercatat telah mencapai 3,48% pada Maret 2026, sebuah angka yang sudah mendekati batas atas target sasaran BI di kisaran 1,5% hingga 3,5%.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah tercatat telah melemah sekitar 3% sepanjang tahun ini. Depresiasi ini melanjutkan tren negatif tahun 2025 di mana rupiah merosot hampir 4%, meskipun BI telah melakukan intervensi rutin di pasar valuta asing.
Berdasarkan survei yang dilakukan pada periode 13 hingga 20 April, seluruh ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tetap di level 4,75% pekan ini.
Selain itu, suku bunga fasilitas simpanan overnight (Deposit Facility) dan suku bunga pinjaman (Lending Facility) juga diperkirakan tidak bergerak, masing-masing di level 3,75% dan 5,50%.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Tahun 2026 Kian Pudar
Meski keputusan untuk menahan suku bunga pada pekan ini sudah diperkirakan secara luas, para ekonom secara umum mulai meninggalkan harapan akan adanya pemangkasan suku bunga pada tahun ini.
Sebanyak 27 ekonom yang memberikan pandangan untuk kuartal kedua 2026 kini memprediksi tidak ada perubahan kebijakan pada periode tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan survei Maret lalu, di mana 70% responden sempat memprediksi adanya satu atau dua kali pemangkasan.
Ekonom Bank Central Asia, Elbert Timothy Lasiman, menjelaskan bahwa situasi saat ini semakin tidak memungkinkan bagi BI untuk menurunkan suku bunga.
"Perkembangan terbaru semakin mengarah pada tidak adanya pemangkasan suku bunga, didorong setidaknya oleh tiga faktor: arus keluar modal yang menekan rupiah, meningkatnya ekspektasi inflasi, dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah akibat perang," ujar Elbert kepada Reuters, dikutip Selasa (21/4).
Lebih lanjut, Elbert menjelaskan bahwa pasar kini memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed akan mempertahankan suku bunga sepanjang tahun.
Kebijakan Federal Reserve sangat krusial bagi langkah Bank Indonesia karena suku bunga fed funds yang tinggi cenderung memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia, yang pada gilirannya melemahkan rupiah dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan domestik.
Risiko Subsidi Energi dan Proyeksi ke Depan
Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 60% ekonom, atau 17 dari 27 responden, memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga di level saat ini sepanjang 2026.
Hanya sembilan ekonom yang masih memprediksi satu atau lebih pemangkasan, sementara satu ekonom lainnya justru memproyeksikan adanya kenaikan sebesar 25 basis poin.
Proyeksi nilai tengah (median) menunjukkan inflasi akan berada di level 3,0% tahun ini, naik dari perkiraan sebelum perang yang sebesar 2,7%. Guna menahan tekanan harga, pemerintah memperkirakan dibutuhkannya tambahan subsidi energi hingga mencapai Rp100 triliun.
Risiko inflasi juga tetap membayangi jika terjadi kebijakan fiskal yang drastis.
"Jika pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM bersubsidi, inflasi bisa melonjak hingga 5%," kata Elbert.
Sejumlah ekonom sepakat bahwa risiko lonjakan inflasi ini dapat mendorong Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga pada tahun ini, meskipun pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan tetap stabil di angka sekitar 5% untuk tahun ini dan tahun depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar