BI dan Kemenkeu Sepakat Dua Langkah Konkret untuk Stabilkan Rupiah
Bank Indonesia (BI) dan Kemenkeu sepakat tingkatkan imbal hasil dan jaga likuiditas pasar untuk dorong inflow dan stabilkan rupiah.

periskop.id - Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyepakati dua langkah konkret untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang belakangan tertekan arus keluar modal asing.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menguraikan, koordinasi moneter dan fiskal kini difokuskan pada dua hal: mendongkrak daya tarik imbal hasil dan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang serta perbankan.
"Fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Perry dalam konferensi pers bersama DPR, Kementerian Keuangan, dan pemerintah di Jakarta, Sabtu (6/6).
Langkah pertama menyasar sisi portfolio inflow. Perry menerangkan, kenaikan suku bunga di luar negeri memicu keluarnya modal dari instrumen saham maupun Surat Berharga Negara, sehingga peningkatan imbal hasil menjadi respons paling langsung untuk membalik arus tersebut.
Langkah kedua berfokus pada likuiditas. Kas pemerintah akan tetap ditempatkan di BI, namun disertai peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah.
Perry menjelaskan, skema itu memungkinkan operasi moneter tetap berjalan efektif sekaligus memberi ruang bagi kebijakan fiskal untuk ikut menopang stabilitas nilai tukar secara bersamaan.
"Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung," tuturnya.
Ia menegaskan, dua langkah ini bukan kebijakan sementara. BI dan Kemenkeu berkomitmen memperkuat koordinasi secara berkesinambungan, saling mendukung dengan kewenangan masing-masing.
"Penguatan koordinasi fiskal-moneter yang sudah kuat selama ini sekarang diperkuat, dan secara berkesinambungan terus akan diperkuat saling mendukung, saling memperkuat," kata Perry.
Pertemuan hari ini digelar di tengah tekanan terhadap rupiah yang dipicu kombinasi faktor global, terutama penguatan dolar AS akibat kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat. Perry menyatakan keyakinannya bahwa fundamental ekonomi domestik masih solid sebagai pondasi dari seluruh langkah stabilisasi ini.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, Purbaya Yudhi Sadewa, dan Rupiah dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.