Periskop.id - Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) menyiapkan pendanaan jumbo sebesar US$50 miliar hingga 2035 untuk membangun jaringan listrik lintas negara di kawasan Asia dan Pasifik. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar memperkuat konektivitas energi regional, sekaligus mendorong transisi menuju energi bersih.

Presiden ADB Masato Kanda menegaskan, proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan upaya membentuk sistem energi regional yang terintegrasi dan tahan krisis. "Inisiatif Jaringan Listrik Pan-Asia (Pan-Asia Power Grid Initiative) senilai $50 miliar ini bertujuan membangun infrastruktur yang dibutuhkan demi Asia dan Pasifik yang lebih terhubung, tangguh, dan sejahtera," ujar Masato Kanda dalam keterangannya, Selasa (5/5). 

Program yang diberi nama Pan-Asia Power Grid Initiative (PAGI) ini resmi diperkenalkan dalam Pertemuan Tahunan ADB ke-59 di Samarkand, Uzbekistan. Melalui skema ini, ADB akan menggabungkan pembiayaan, kebijakan, dan kemitraan lintas sektor untuk mempercepat pembangunan jaringan listrik antarnegara.

"Negara-negara yang tetap terhubung lebih mampu menarik investasi dan bertahan menghadapi guncangan dibanding yang menutup diri. Konektivitas adalah jawaban kami atas fragmentasi," tuturnya.

Energi Bersih hingga Lapangan Kerja
ADB menargetkan proyek ini mampu mengintegrasikan sekitar 20 gigawatt energi terbarukan ke dalam sistem regional. Selain itu, pembangunan akan mencakup lebih dari 22.000 kilometer jaringan transmisi listrik lintas negara.

Tak hanya soal infrastruktur, dampak sosial-ekonomi juga menjadi fokus utama. Hingga 2035, program ini diproyeksikan memberikan akses listrik ke 200 juta orang dan menciptakan sekitar 840.000 lapangan kerja baru

Menurut laporan International Energy Agency (IEA), kebutuhan investasi infrastruktur energi di Asia diperkirakan mencapai lebih dari US$1,7 triliun per tahun untuk mencapai target net zero emission. Inisiatif ADB ini dinilai menjadi salah satu langkah konkret untuk menutup kesenjangan pendanaan tersebut.

ADB menilai konektivitas jaringan listrik antarnegara dapat menekan biaya energi secara signifikan. Dengan sistem terhubung, negara dapat saling berbagi pasokan listrik, terutama dari sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.

Selain itu, integrasi ini juga meningkatkan keandalan sistem listrik saat terjadi gangguan pasokan di satu negara. ADB sendiri telah memiliki pengalaman dalam proyek lintas batas, seperti interkoneksi listrik Bangladesh–India dan pengembangan energi angin di Laos. Proyek-proyek ini menjadi model awal bagi implementasi PAGI.

Untuk mempercepat realisasi, ADB menggandeng berbagai pihak mulai dari pemerintah, regulator, hingga sektor swasta. Pendanaan akan menggunakan skema blended finance, yaitu kombinasi dana publik dan swasta untuk menekan risiko investasi.

ADB juga telah membentuk Dana Konektivitas Regional yang didukung oleh Australia, Kanada, Jerman, Inggris, dan Uni Eropa. Dana ini difokuskan pada tahap awal proyek, termasuk studi kelayakan dan persiapan investasi. Langkah ini dinilai krusial mengingat proyek lintas negara kerap terkendala regulasi dan koordinasi antar pemerintah.

Krisis Energi Global
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi global, konektivitas listrik regional menjadi solusi strategis. Data World Bank (2025) menunjukkan, negara dengan sistem energi terintegrasi memiliki ketahanan lebih baik terhadap krisis pasokan.

ADB menegaskan, perannya kini tidak lagi sebatas pembiayaan proyek tunggal, melainkan sebagai penghubung untuk membangun ekosistem energi regional yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Didirikan pada 1966, ADB saat ini memiliki 69 anggota, dengan 50 di antaranya berasal dari Asia dan Pasifik. Lembaga ini terus berfokus pada pembangunan infrastruktur, pengurangan kemiskinan, serta percepatan transisi energi bersih di kawasan. Dengan proyek ini, Asia tidak hanya mengejar ketahanan energi, tetapi juga memperkuat posisi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global berbasis energi berkelanjutan.