Periskop.id - Olahraga lari semakin kuat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Aktivitas ini tidak lagi hanya dipandang sebagai cara menjaga kebugaran, tetapi juga ruang aktualisasi diri, sarana membangun komunitas, hingga bagian dari tren konsumsi baru di kanal digital.

Perubahan itu ikut membuka peluang bagi brand sportswear. Seiring makin banyaknya masyarakat yang berlari, kebutuhan terhadap sepatu, apparel, dan perlengkapan olahraga juga meningkat. Bagi brand, tantangannya bukan lagi hanya menghadirkan produk yang tepat, tetapi juga memastikan produk tersebut mudah ditemukan, stoknya tersedia, dan pengalaman belanjanya konsisten di berbagai kanal digital.

Laporan “Understanding Indonesia’s Sports Trends” oleh Populix pada 2025 menunjukkan 94% dari 1.030 responden generasi Z dan milenial rutin berolahraga setidaknya sekali dalam sepekan. Dalam laporan tersebut, lari menjadi salah satu olahraga paling populer karena mudah diakses dan dekat dengan keseharian masyarakat.

Tren ini juga menguat secara global sejak pandemi covid-19. Survei RunRepeat terhadap 3.961 pelari di 139 negara menunjukkan, 28,76% responden mulai mengenal olahraga lari untuk pertama kalinya pada masa pandemi, ketika berbagai fasilitas olahraga mengalami pembatasan.

Kini, dunia lari berkembang dalam banyak format. Ada lari santai bersama komunitas, fun run, road race, half marathon, marathon, hingga trail run. Ragam pengalaman tersebut membuat lari tidak hanya menjadi olahraga individual, tetapi juga aktivitas sosial yang membangun komunitas.

Event Lari Meningkat Pesat

Antusiasme terhadap olahraga lari terlihat dari pertumbuhan jumlah event. Berdasarkan data GoodStats yang dikutip dalam siaran SIRCLO, jumlah lomba lari di Indonesia naik dari sekitar 106 acara pada 2022 menjadi 556 acara pada 2025.

Kenaikan ini memperlihatkan, ekosistem lari terus berkembang setelah pandemi. Event lari kini tidak hanya digelar di kota besar, tetapi juga menjadi bagian dari strategi sport tourism di berbagai daerah.

Fenomena serupa terlihat pada penyelenggaraan BTN Jakarta International Marathon atau JAKIM 2026. Ajang ini diikuti 45.500 pelari, termasuk 1.012 pelari internasional dari 52 negara. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai event lari berskala besar tidak hanya mendorong gaya hidup sehat, tetapi juga memberi efek ekonomi bagi kota.

"Kegiatan berskala besar dinilai mampu menggerakkan sektor transportasi, perhotelan, kuliner, ekonomi kreatif, serta usaha mikro dan kecil di sekitar lokasi kegiatan," ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai melepas sekaligus mengikuti kategori 10K JAKIM 2026 di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Pramono juga menilai konsistensi menggelar ajang olahraga internasional dapat memperkuat posisi Jakarta di mata dunia. "Saya meyakini, semakin banyak ajang seperti ini digelar, semakin kuat pula posisi Jakarta sebagai destinasi sport tourism dunia yang mampu menarik wisatawan, menggerakkan perekonomian, serta memperkenalkan wajah Jakarta sebagai kota global yang inklusif, kompetitif, dan berdaya saing," pungkas Pramono.

Dari sisi industri, makin banyak event berarti makin besar pula kebutuhan perlengkapan lari. Pelari pemula membutuhkan sepatu yang nyaman, pakaian yang ringan, dan aksesori dasar. Pelari yang lebih serius mencari produk dengan fitur performa, daya tahan, dan teknologi yang lebih spesifik.

Sepatu Lari Kuasai Belanja Sports Footwear

Popularitas lari juga terlihat dalam perilaku belanja online. Data TMO Group menunjukkan sepatu lari menjadi subkategori sepatu olahraga terlaris di Shopee Indonesia pada Mei 2025.

Pangsa sepatu lari mencapai 41,8%. Angka ini jauh di atas sepatu sepak bola sebesar 15,1 persen dan sepatu futsal sebesar 11,5%. Kategori lain seperti training shoes, badminton shoes, hiking shoes, dan volleyball shoes berada di bawahnya.

Data tersebut menunjukkan, lari tidak hanya hidup di komunitas dan event, tetapi juga tercermin langsung pada permintaan produk di marketplace. Konsumen tidak hanya mencari produk olahraga secara umum, tetapi makin spesifik mencari perlengkapan lari.

Bagi brand sportswear, perubahan ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Peluangnya jelas: pasar sedang tumbuh. Tantangannya, persaingan di marketplace makin padat dan konsumen semakin kritis terhadap harga, kualitas, stok, ukuran, ulasan, konten produk, hingga layanan pelanggan.

Brand Harus Adaptif di Kanal Digital

Sebagai penyedia layanan omnichannel commerce enabler, SIRCLO melihat perubahan perilaku belanja ini sebagai sinyal bahwa brand perlu semakin adaptif. Produk yang relevan saja tidak cukup jika brand tidak mampu menjangkau konsumen di kanal yang mereka gunakan sehari-hari.

Arnold Oscar Suandrea Chandra, Vice President of Account Management SIRCLO menilai, brand perlu memahami perjalanan konsumen di berbagai kanal digital. “Perubahan preferensi masyarakat ini menunjukkan bahwa brand perlu semakin adaptif dalam menjangkau konsumen. Tidak hanya menghadirkan produk yang relevan, brand juga perlu memahami bagaimana konsumen berinteraksi dengan berbagai kanal digital dan memastikan pengalaman berbelanja yang konsisten di setiap titik interaksi," tuturnya. 

Pernyataan ini relevan dengan cara konsumen membeli perlengkapan olahraga hari ini. Sebelum membeli sepatu lari, konsumen bisa membaca ulasan di marketplace, menonton live commerce, mencari rekomendasi komunitas, membandingkan harga, mengecek stok ukuran, melihat video produk, lalu baru menyelesaikan transaksi.

Dengan perilaku seperti itu, brand tidak bisa hanya mengandalkan satu kanal. Mereka perlu hadir secara konsisten di marketplace, situs resmi, media sosial, live commerce, affiliate marketing, dan layanan pelanggan.

ASICS Perkuat Penjualan Online Bersama SIRCLO

Salah satu brand yang merespons tren ini adalah ASICS, brand global asal Jepang yang dikenal lewat inovasi sepatu lari dan produk performa olahraga. Sejak 2021, ASICS berkolaborasi dengan SIRCLO untuk memperkuat pengelolaan penjualan online.

Dukungan tersebut dilakukan melalui SIRCLO Commerce, solusi end-to-end e-commerce enablement yang membantu brand mengelola penjualan secara terintegrasi. Layanannya mencakup Account Management, Marketing Strategy, Analytics, Content Production, Customer Service, serta Warehouse & Fulfilment.

Pada sisi aktivasi pemasaran, ASICS juga memanfaatkan SIRCLO StreamLab sebagai solusi 360° marketing solutions untuk mengoptimalkan visibilitas dan konversi produk melalui live commerce hingga affiliate marketing.

Dalam kerja sama tersebut, ASICS mencatat pertumbuhan pesanan 14 kali lipat pada April 2026 dibandingkan April 2022. Pertumbuhan ini didorong oleh sejumlah strategi, seperti menjaga kesiapan stok agar risiko out of stock berkurang di berbagai kanal penjualan, menghadirkan program promosi Buy More Save More, serta memperpanjang durasi live streaming pada momen Double Day untuk meningkatkan interaksi dengan konsumen.

“Antusiasme masyarakat terhadap olahraga, terutama lari, menjadi momentum penting bagi ASICS untuk semakin dekat dengan konsumen di Indonesia. Dengan dukungan SIRCLO, kami dapat memaksimalkan pengelolaan kanal digital, menjaga ketersediaan produk, serta menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih relevan bagi konsumen dengan gaya hidup aktif,” ujar Singgih Rahadi, E-Commerce Manager ASICS Indonesia

Live Commerce Jadi Kanal Penting

untuk diketahui, perkembangan penjualan digital tidak lagi hanya bergantung pada katalog produk. Dalam kategori sportswear, live commerce mulai menjadi kanal penting karena konsumen dapat melihat produk secara lebih nyata, bertanya langsung, dan mendapatkan penjelasan fitur.

Bagi produk seperti sepatu lari, penjelasan semacam ini sangat dibutuhkan. Konsumen ingin tahu soal ukuran, bantalan, bobot, tipe kaki, penggunaan untuk jarak tertentu, hingga perbedaan antara sepatu latihan harian dan sepatu race.

Melalui live commerce, brand dapat mengedukasi konsumen sekaligus mendorong transaksi. Strategi ini juga membantu membangun kedekatan dengan komunitas pelari yang membutuhkan informasi lebih detail sebelum membeli produk.

SIRCLO dalam studi kasus ASICS juga mencatat pendekatan unified commerce membantu ASICS menyatukan operasi marketplace dan situs resmi, sekaligus mengembangkan live streaming menjadi kanal konversi yang lebih terstruktur. Dalam studi kasus itu, ASICS mencatat pertumbuhan GMV lebih dari 150% secara tahunan pada 2025 dibandingkan 2024, serta peningkatan pesanan lebih dari lima kali dari aktivasi live commerce yang konsisten.

Data ini menunjukkan bahwa penguatan kanal digital tidak hanya soal membuka toko online, tetapi juga menyangkut cara brand mengelola konten, stok, peluncuran produk, komunikasi, dan promosi secara terpadu.

Stok Jadi Faktor Kunci

Di tengah lonjakan tren lari, kesiapan stok menjadi salah satu faktor terpenting. Ketika produk sedang dicari, konsumen bisa dengan cepat berpindah ke toko atau brand lain jika ukuran tidak tersedia.

Risiko out of stock sangat penting dalam kategori sepatu. Konsumen tidak hanya memilih model, tetapi juga ukuran, warna, fungsi, dan rentang harga. Jika salah satu varian habis, potensi penjualan bisa hilang.

Karena itu, pengelolaan stok lintas kanal menjadi krusial. Brand perlu mengetahui produk mana yang sedang naik, ukuran apa yang paling banyak dicari, kanal mana yang punya permintaan tinggi, dan kapan harus menambah persediaan.

Dalam kasus ASICS, menjaga kesiapan stok disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan pesanan. Ini menunjukkan, tren pasar perlu dijawab dengan kesiapan operasional, bukan hanya kampanye pemasaran.

Konsumen Lari Makin Beragam

Pasar lari hari ini juga tidak homogen. Ada pelari pemula yang baru mulai membangun kebiasaan. Ada pelari komunitas yang rutin mengikuti fun run. Ada pelari serius yang mengejar personal best. Ada pula pelari trail yang membutuhkan perlengkapan berbeda.

Setiap segmen membutuhkan pendekatan produk dan komunikasi yang berbeda. Pelari pemula biasanya mencari sepatu yang nyaman dan harga masuk akal. Pelari lebih serius mencari teknologi bantalan, stabilitas, bobot ringan, atau performa untuk pace tertentu.

Bagi brand sportswear, pemahaman segmen seperti ini penting. Produk tidak cukup hanya dipajang dengan foto. Brand perlu memberi edukasi agar konsumen memahami produk mana yang paling cocok dengan kebutuhan mereka.

Di sinilah data dan analytics berperan. Dengan membaca perilaku belanja, respons promosi, performa konten, dan interaksi live commerce, brand bisa menyesuaikan strategi lebih cepat.

Lari Jadi Gaya Hidup dan Komunitas

Tren lari juga menguat karena olahraga ini mudah diikuti. Tidak perlu lapangan khusus, tidak selalu butuh lawan bermain, dan bisa dilakukan di sekitar rumah, taman, kawasan kota, atau lintasan event.

Populix mencatat, lari memimpin kategori olahraga luar lapangan dengan tingkat popularitas 44%. Hal ini memperkuat gambaran bahwa lari cocok dengan kebutuhan masyarakat urban yang mencari olahraga praktis dan fleksibel.

Selain itu, komunitas lari membuat aktivitas ini terasa lebih sosial. Orang tidak hanya berlari untuk membakar kalori, tetapi juga bertemu teman, membangun rutinitas, mengejar target, membuat konten, hingga mengikuti event.

Perubahan makna ini berdampak pada belanja. Konsumen tidak hanya membeli sepatu karena butuh alas kaki olahraga, tetapi juga karena ingin mendukung identitas baru sebagai bagian dari gaya hidup aktif.

Peluang Besar, Persaingan Juga Makin Ketat

Pertumbuhan kategori lari membuat makin banyak brand masuk ke pasar sportswear. Brand global bersaing dengan brand lokal, sementara marketplace membuat akses konsumen terhadap produk semakin terbuka.

Di satu sisi, konsumen diuntungkan karena pilihan makin banyak. Di sisi lain, brand harus bekerja lebih keras untuk menonjol. Mereka perlu memperkuat diferensiasi, membangun kepercayaan, menjaga kualitas layanan, dan memastikan pengalaman belanja tidak mengecewakan.

Arnold melihat tantangan ke depan tidak hanya tentang produk, tetapi juga kemampuan memahami perilaku konsumen di sepanjang proses pembelian.

“Ke depan, tantangannya bukan hanya menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, tetapi juga memahami bagaimana konsumen berinteraksi dengan berbagai kanal digital sepanjang proses pembelian. Karena itu, keahlian dalam membaca peluang sekaligus kesiapan operasional menjadi faktor penting agar brand dapat tetap kompetitif di tengah dinamika perilaku konsumen,” tutup Arnold.

Pernyataan itu menegaskan, kanal digital kini menjadi bagian utama dari strategi brand sportswear. Di pasar yang terus bergerak, brand yang mampu membaca data, menjaga stok, mengelola konten, dan membangun interaksi akan punya peluang lebih besar.

Singkatnya, polaborasi ASICS dan SIRCLO menjadi contoh bagaimana brand dapat memanfaatkan perubahan gaya hidup aktif menjadi pertumbuhan digital. Dengan pengelolaan e-commerce, live commerce, promosi, dan operasional yang lebih rapi, brand bisa lebih dekat dengan konsumen yang kini makin aktif, terkoneksi, dan kritis dalam berbelanja.