Periskop.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba bersih sebesar US$79,61 juta sepanjang semester I 2026. Nilai tersebut meningkat 15,48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong pertumbuhan produksi listrik dan keandalan pembangkit panas bumi perseroan.

Pendapatan PGE hingga akhir Juni 2026 tercatat mencapai US$235,03 juta, tumbuh 14,7% secara tahunan dari US$204,85 juta pada semester I 2025. Dengan capaian tersebut, margin laba bersih perseroan berada di kisaran 33,9%.

Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan pertumbuhan kinerja tersebut menunjukkan strategi bisnis perusahaan berjalan secara efektif, efisien, dan berkelanjutan.

“Kinerja perseroan ditopang oleh pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif,” ujar Fransetya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (29/7).

Produksi Listrik Tembus 2.745 GWh

Pertumbuhan laba dan pendapatan PGE berjalan seiring dengan peningkatan produksi listrik. Sepanjang semester I 2026, total produksi perseroan mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), naik 13,62% dari 2.416 GWh pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan yang kami catatkan di kuartal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bekal bagi PGE untuk terus memperluas manfaat panas bumi bagi masyarakat sekaligus mendorong transisi energi nasional,” ujar Fransetya.

Kinerja semester pertama tersebut melanjutkan tren positif yang telah terlihat sejak awal tahun. Pada kuartal I 2026, produksi listrik PGE meningkat 15,22% menjadi 1.370 GWh, sementara laba bersih tumbuh 40% menjadi US$43,899 juta. Perusahaan juga mencatat capacity factor sebesar 90,77% dan availability factor 99,63%, mencerminkan tingkat pemanfaatan dan keandalan pembangkit yang tinggi.

Liabilitas Turun, Struktur Modal Menguat

Dari sisi neraca, PGE mencatatkan ekuitas sebesar US$2,01 miliar pada akhir kuartal II 2026. Sementara itu, total liabilitas turun 2,80 persen secara tahunan menjadi US$961,18 juta.

Penurunan kewajiban tersebut memperkuat struktur modal sekaligus memberikan ruang keuangan bagi perusahaan untuk melanjutkan investasi dan pengembangan proyek panas bumi.

PGE sebelumnya juga mendapatkan dukungan pendanaan internasional hingga US$477,87 juta untuk tiga proyek panas bumi. Pendanaan itu menjadi bagian dari strategi perusahaan mempercepat penambahan kapasitas sekaligus menjaga kesinambungan proyek energi bersih.

PGE Bidik Kapasitas 1 GW pada 2028

Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan bahwa panas bumi memiliki posisi strategis dalam sistem energi nasional karena dapat menghasilkan listrik secara stabil selama 24 jam dan tidak bergantung pada kondisi cuaca.

“Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70% energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami. Bagi saya dan seluruh perwira PGE, satu abad ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan juga momentum untuk membuktikan bahwa energi bersih nan melimpah yang kita miliki ini siap mendukung ketahanan energi negeri,” ungkap Ahmad.

Saat ini, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW. Rinciannya, sebanyak 727 MW dioperasikan langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas di wilayah kerja perusahaan setara sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi terpasang nasional.

Secara nasional, kapasitas pembangkit panas bumi Indonesia telah mencapai sekitar 2.744 MW pada akhir 2025. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen listrik panas bumi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, meski baru memanfaatkan sebagian kecil dari potensi sumber daya sekitar 23.742 MW.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan pembangkit panas bumi sebesar 5,2 GW. PGE berupaya mendukung target tersebut dengan mengejar kapasitas yang dioperasikan langsung sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033.

Ekspansi tersebut akan ditopang sejumlah proyek, termasuk pengembangan Ulubelu, Hululais, Lahendong, Kamojang, Sibayak, dan Lumut Balai. Tambahan kapasitas diharapkan memperkuat kontribusi panas bumi sebagai sumber listrik bersih yang stabil sekaligus mendukung target emisi nol bersih Indonesia pada 2060.