Periskop.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE membidik pusat data hijau sebagai pasar baru bagi listrik panas bumi. Perusahaan menegaskan tidak akan masuk sebagai pengelola pusat data, melainkan menyediakan energi bersih yang stabil untuk menopang kebutuhan listrik industri digital.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas pemanfaatan panas bumi di luar penjualan listrik konvensional.
“Kita sedang berupaya, ini salah satu upaya kita bagaimana mengakselerasi potensi-potensi panas bumi. Jadi bukan kita terjun ke bisnis data center, tapi kita support di sisi energinya,” kata Ahmad Yani di Jakarta, Selasa (4/8).
PGE melihat kebutuhan listrik pusat data akan meningkat pesat seiring pertumbuhan layanan komputasi awan, kecerdasan buatan, perdagangan digital, dan penyimpanan data. Industri ini membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar yang tersedia tanpa henti.
Panas Bumi Bisa Menyala Sepanjang Waktu
Panas bumi mempunyai karakter berbeda dari sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin. Pembangkit listrik tenaga panas bumi dapat beroperasi secara stabil selama 24 jam sehingga dapat menjadi energi beban dasar atau baseload.
Karakter tersebut dinilai cocok untuk pusat data yang harus beroperasi tanpa henti dan membutuhkan pasokan listrik konsisten untuk menjalankan server, sistem pendingin, jaringan, serta fasilitas keamanan.
“Energi (panas bumi) yang bersih yang bisa kita manfaatkan untuk pengembangan data center, untuk support data center. Kita sudah tahu bahwasannya, geothermal itu baseload green energy, ini kan sangat bisa jalan dengan bisnis data center ke depan, yang fokus kepada green (energy),” ujar Ahmad Yani.
Badan Energi Internasional atau IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data global akan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 terawatt jam pada 2030. Kecerdasan buatan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Pada 2024, pusat data mengonsumsi sekitar 1,5% listrik dunia. Permintaannya tumbuh rata-rata 12% per tahun sejak 2017, lebih dari empat kali laju pertumbuhan konsumsi listrik global secara keseluruhan.
Kebutuhan Pusat Data Indonesia Terus Membesar
Berdasarkan proyeksi yang digunakan PGE, hampir 26% pertumbuhan konsumsi listrik industri akan berasal dari pusat data. Kapasitas pusat data nasional diperkirakan meningkat dari 520 megawatt pada 2025 menjadi 1,8 gigawatt pada 2030.
Sementara itu, data Kementerian Komunikasi dan Digital pada Mei 2026 mencatat Indonesia memiliki 185 pusat data dengan kapasitas operasional sekitar 274 megawatt. Pemerintah menargetkan kapasitas tersebut melampaui 2.000 megawatt pada 2029.
Perbedaan angka dapat terjadi karena masing-masing proyeksi menggunakan cakupan berbeda. Sebagian perhitungan hanya memasukkan kapasitas yang sudah beroperasi, sedangkan lainnya turut menghitung proyek dalam pembangunan dan rencana investasi yang telah diumumkan.
Pertumbuhan pusat data juga ditopang prospek ekonomi digital Indonesia. Komdigi memperkirakan nilai ekonomi digital nasional melampaui US$100 miliar pada 2026 dan berpotensi mencapai US$220 miliar hingga US$360 miliar pada 2030.
PGE Sudah Susun Kajian Sejak 2025
Rencana memasok energi bagi pusat data hijau bukan gagasan baru. Pada Desember 2025, PGE menjalin kerja sama dengan Indonesia Data Center Provider Organization dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Kolaborasi tersebut disiapkan untuk menyusun fondasi teknis dan komersial serta peta jalan pengembangan pusat data berbasis panas bumi pertama di Indonesia. Proyek masih berada pada tahap kajian sehingga belum ada lokasi, kapasitas listrik, nilai investasi, maupun jadwal operasional yang diumumkan.
Kajian diperlukan untuk menentukan model pasokan listrik yang paling memungkinkan. Pilihannya dapat berupa pembangunan pusat data di dekat wilayah kerja panas bumi, penyaluran melalui jaringan listrik, atau perjanjian pembelian energi yang dilengkapi sistem pencatatan sumber listrik bersih.
Pengembangan juga harus mempertimbangkan ketersediaan jaringan telekomunikasi, keamanan pasokan, kebutuhan air untuk pendinginan, kesiapan transmisi, dan jarak lokasi dari pusat permintaan digital.
PGE Kelola Kapasitas Panas Bumi 1.932 Megawatt
PGE saat ini mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang 1.932 megawatt. Sebanyak 727 megawatt dioperasikan langsung, sedangkan 1.205 megawatt dikelola melalui skema kontrak operasi bersama.
Kapasitas di wilayah kerja PGE setara sekitar 70% dari keseluruhan kapasitas terpasang panas bumi Indonesia. Perusahaan menargetkan kapasitas yang dioperasikan langsung meningkat menjadi 1 gigawatt pada 2028 dan 1,8 gigawatt pada 2034.
Pada kuartal I 2026, faktor kapasitas pembangkit PGE mencapai 90,77%, sedangkan tingkat ketersediaannya berada di posisi 99,63%. Indikator tersebut menunjukkan pembangkit dapat beroperasi secara stabil, sebuah karakter penting bagi pusat data yang sensitif terhadap gangguan listrik.
Indonesia sendiri mempunyai potensi sumber daya panas bumi sekitar 23.742 megawatt. Namun, kapasitas yang telah terpasang baru 2.744 megawatt atau sekitar 11,6% dari keseluruhan potensi.
Besarnya potensi yang belum dimanfaatkan membuka peluang pengembangan pembangkit baru. Namun, proyek panas bumi membutuhkan investasi besar, proses eksplorasi, kepastian pembeli listrik, pembangunan jaringan transmisi, dan perizinan yang dapat memakan waktu panjang.
Terbuka Bekerja Sama dengan Operator Pusat Data
PGE menyatakan terbuka terhadap perusahaan pusat data yang ingin menggunakan energi rendah karbon. Kerja sama dapat mencakup kajian lokasi, kebutuhan daya, model pembelian listrik, hingga pembangunan ekosistem industri di sekitar wilayah panas bumi.
“Kita terbuka, semua perusahaan-perusahaan data center yang suka green pasti ada bertemu dengan kita. Semua perusahaan yang ada, kita terbuka untuk melakukan kerja sama, peluang-peluang. Kita akan juga (membahas) bagaimana kita membangun ekosistem,” kata Ahmad Yani.
Pasokan panas bumi dapat membantu operator mengurangi ketergantungan terhadap listrik fosil dan memenuhi target penurunan emisi. Namun, penyebutan pusat data hijau tetap memerlukan pengukuran yang transparan mengenai sumber listrik, efisiensi penggunaan energi, sistem pendingin, penggunaan air, dan jejak karbon keseluruhan.
Keberhasilan rencana PGE akan bergantung pada hadirnya mitra pusat data, kepastian permintaan listrik, kesiapan jaringan, dan kelayakan investasi. Apabila dapat diwujudkan, panas bumi berpeluang menjadi penghubung antara kekuatan energi terbarukan Indonesia dan pertumbuhan ekonomi digital yang membutuhkan pasokan listrik semakin besar.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar