Periskop.id — PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel mencatatkan pendapatan sebesar Rp17,1 triliun pada semester pertama 2026, capaian yang didukung oleh disiplin operasional hingga optimalisasi kapasitas produksi di tengah tantangan industri nikel global yang masih fluktuatif.
Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin Darmo Liwan mengatakan perusahaan terus berupaya menjaga kinerja operasional di tengah tantangan industri nikel global.
"Sepanjang semester pertama tahun ini, industri nikel global masih mengalami berbagai tantangan. Dalam kondisi tersebut, kami tetap berfokus menjaga operasional yang efisien, andal, dan terukur di seluruh rantai nilai terintegrasi. Optimalisasi kapasitas produksi mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja penjualan di sejumlah segmen," ujar Suparsin dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (1/8). Perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi itu menyampaikan laporan keuangan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026.
Akselerasi Signifikan Dibanding Kuartal I
Angka pendapatan semester I 2026 ini menunjukkan percepatan kinerja yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan capaian kuartal pertama. Berdasarkan catatan Kompas.com dan CNBC Indonesia, pada kuartal I 2026 Harita Nickel membukukan pendapatan sebesar Rp6,81 triliun dengan laba bersih Rp2,71 triliun, tumbuh 63,65% secara tahunan dari Rp1,66 triliun pada periode yang sama 2025. Artinya, pendapatan pada kuartal kedua saja diperkirakan menyumbang sekitar Rp10,3 triliun, atau hampir dua kali lipat dari capaian kuartal sebelumnya — indikasi bahwa optimalisasi kapasitas produksi yang disinggung manajemen benar-benar mulai membuahkan hasil signifikan.
Menurut Suparsin, di tengah dinamika industri nikel global, pihaknya tetap menjaga fokus pada efisiensi operasional, optimalisasi rantai nilai terintegrasi, serta penguatan praktik usaha yang bertanggung jawab untuk menjaga keandalan produksi dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Tambang Baru dan Lini Produksi Tambahan Jadi Pendorong Utama
Dari sisi operasional, peningkatan kinerja penjualan bijih nikel dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya turut menopang capaian perseroan. Peningkatan tersebut didukung oleh mulai beroperasinya fasilitas tambang baru PT Gane Tambang Sentosa (GTS) sejak kuartal III 2025, serta bertambahnya lini produksi fasilitas pirometalurgi PT Karunia Permai Sentosa (KPS).
Pada segmen pirometalurgi, penjualan feronikel meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama didorong oleh peningkatan output dari tambahan lini produksi fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) milik KPS. Sementara itu, penjualan produk High Pressure Acid Leach (HPAL) pada segmen hidrometalurgi dipengaruhi oleh jadwal pengiriman.
Momentum Harga Nikel Turut Mendukung
Kinerja positif ini juga tak lepas dari momentum penguatan harga nikel global yang sempat terjadi pada awal 2026. Menurut catatan Indonesian Mining Association, lonjakan harga nikel dunia pada awal Januari 2026 turut mengerek saham-saham emiten nikel, termasuk NCKL yang saat itu menguat 7,69 persen ke level Rp1.400 per saham, seiring rencana kebijakan pemerintah memangkas kuota produksi nasional sebesar 34 persen menjadi 250 juta ton dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, yang mendorong ekspektasi perbaikan harga di pasar global.
Perkuat Daya Saing dan Praktik Tambang Bertanggung Jawab
Pihaknya juga terus memperkuat daya saing melalui pengelolaan operasi terintegrasi mulai dari kegiatan penambangan hingga pengolahan nikel. Optimalisasi kapasitas produksi secara bertahap di berbagai fasilitas diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas operasional sekaligus menjaga keandalan pasokan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Di luar capaian finansial, Harita Nickel turut mempertegas komitmennya terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab. Berdasarkan catatan, perseroan saat ini tengah menjalankan Corrective Action Plan sebagai bagian dari evaluasi standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), mencakup penguatan pelibatan pemangku kepentingan dan penyempurnaan sistem pengelolaan lingkungan. Perusahaan juga telah menyelesaikan audit lapangan Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) untuk operasi HJF, sementara fasilitas HPL dan ONC berhasil meraih sertifikasi ulang RMAP.
Di sisi keberlanjutan, perusahaan juga mengembangkan sejumlah inisiatif dekarbonisasi untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi waste heat recovery di fasilitas HPAL yang dirancang menghasilkan listrik hingga 50 MW dan ditargetkan rampung pada kuartal IV 2026.
Tinggalkan Komentar
Komentar