periskop.id - Lonjakan harga emas dunia terus menembus rekor tertinggi baru. Fenomena ini kerap memicu aksi beli impulsif karena takut ketinggalan atau FOMO.
Padahal, Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai kondisi ini menuntut kehati-hatian ekstra. Keputusan investasi harus didasarkan pada tujuan finansial, bukan emosi sesaat.
"Padahal rekor hanya menandai posisi hari ini, bukan kepastian besok. Gagasan saya keputusan beli atau jual semestinya ditentukan oleh tujuan, horizon waktu, dan kemampuan menanggung risiko, bukan oleh euforia rekor semata," kata Achmad dalam keterangannya, Jumat (26/12).
Achmad menggunakan analogi sederhana. Ia mengibaratkan pergerakan harga emas layaknya sebuah lift di gedung pencakar langit.
Ketika lift mencapai lantai paling atas, sebagian orang panik. Mereka ingin segera keluar karena takut lift akan turun.
Di sisi lain, ada kelompok berbeda. Mereka justru memaksa masuk karena yakin lift akan terus naik lebih tinggi.
Padahal, lift bisa saja berhenti sejenak. Bisa juga naik lagi, atau malah turun drastis beberapa lantai.
Ketidakpastian inilah yang sering menjebak investor pemula. Mereka sering kali hanya mengandalkan emosi tanpa analisis matang.
Secara fundamental, kenaikan harga logam mulia ini memang dipicu faktor global. Ketidakpastian geopolitik hingga isu suku bunga menjadi penyebab utama.
Data pasar menunjukkan harga spot gold melesat tinggi. Angkanya sempat menembus level psikologis USD 4.500 per troy ounce.
Namun, Achmad mengingatkan realitas pasar emas ritel di Indonesia berbeda. Perdagangan di sini tidak sama dengan pasar spot global.
Masyarakat umumnya membeli emas fisik. Emas batangan atau perhiasan memiliki selisih harga jual-beli (spread) yang cukup lebar.
"Di sinilah pertanyaan 'beli atau jual' menjadi jauh lebih praktis: bukan hanya soal arah harga, tapi juga soal selisih beli dan jual kembali," paparnya.
Bagi investor jangka panjang, rekor harga tinggi bukan lampu merah. Strategi menabung rutin tetap dinilai bijak untuk meminimalisasi risiko.
Sebaliknya, bagi para spekulan jangka pendek, area harga rekor adalah zona merah. Perubahan sentimen global yang tiba-tiba bisa memicu koreksi harga tajam.
"Dalam bahasa sederhana, Anda bisa saja membeli di lantai tertinggi tepat sebelum lift turun beberapa lantai," tegas Achmad.
Sementara itu, bagi pemilik aset emas harga bawah, momentum ini dinilai tepat untuk ambil untung. Realisasi keuntungan atau profit taking sebagian bisa menyeimbangkan portofolio.
"Bukan karena emas tidak akan naik lagi, tetapi karena kebijakan pribadi yang baik selalu memberi ruang nafas, ada kas untuk kebutuhan, ada aset lindung nilai untuk ketidakpastian," jelasnya.
Pada akhirnya, fenomena rekor harga emas ini menjadi ujian kedewasaan. Investor harus fokus menjaga kesehatan keuangan, bukan berlomba menebak puncak harga.
"Emas pada akhirnya bukan lomba menebak puncak, melainkan cara menjaga kewarasan finansial saat dunia sedang tidak pasti," pungkas Achmad.
Tinggalkan Komentar
Komentar