periksop.id - Harga emas dunia diproyeksikan masih berpeluang menguat hingga akhir tahun 2025, dengan potensi menguji level resistance di kisaran US$4.600 per troy ounce. Pergerakan tersebut dipengaruhi sentimen geopolitik global serta pelemahan Indeks Dolar Amerika Serikat.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga emas dunia pada perdagangan terakhir ditutup di level US$4.531 per troy ounce. Dari level tersebut, emas masih memiliki ruang pergerakan baik ke arah koreksi maupun penguatan dalam beberapa hari ke depan.

“Harga Emas Dunia kemarin ditutup di level US$4.531 per troy ounce,” ujar Ibrahim, Senin (29/12).

Menurut Ibrahim, jika terjadi koreksi pada awal pekan, emas dunia berpotensi menguji area support pertama di US$4.509 per troy ounce. Sementara apabila tekanan berlanjut hingga pertengahan pekan, support berikutnya berada di level US$4.487 per troy ounce.

“Apabila Harga Emas Dunia turun di hari Senin, kemungkinan besar akan terkoreksi di support pertama di US$4.509 per troy ounce,” jelas dia.

Namun, Ibrahim menilai peluang penguatan emas dunia masih terbuka. Ia menyebutkan resistance terdekat berada di level US$4.550 per troy ounce. Jika momentum penguatan berlanjut hingga Rabu, harga emas dunia berpotensi bergerak menuju area US$4.570 hingga US$4.600 per troy ounce.

“Di hari Rabu, ya itu kemungkinan besar kalau menguat resisten kedua itu di US$4.570 ya sampai di US$4.600. Jadi kemungkinan besar ditutup mendekati US$4.600,” kata Ibrahim.

Ibrahim menambahkan, pergerakan emas dunia juga didorong oleh sentimen pelemahan Indeks Dolar AS. Dalam beberapa hari ke depan, indeks dolar diperkirakan bergerak di kisaran support 97,579 dan resistance 98,398, yang membuka ruang penguatan bagi harga emas.

“Untuk Indeks Dolar, kemungkinan melemah di akhir tahun hari Senin sampai hari Rabu kemungkinan besar supportnya 97.579. Kemudian resistennya di 98.398,” ujarnya.

Selain faktor mata uang, Ibrahim menilai ketegangan geopolitik global turut menopang harga emas. Memanasnya konflik di Amerika Latin dan Afrika, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dengan Venezuela serta Nigeria, meningkatkan minat investor terhadap aset lindung nilai.

“Ada 2 faktor yang mempengaruhi adalah faktor geopolitik, yang kedua adalah pelemahan Indeks Dolar,” ungkap Ibrahim.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, Ibrahim merekomendasikan pelaku pasar untuk tetap mencermati pergerakan emas dunia dalam jangka pendek. Menurutnya, volatilitas masih akan tinggi, namun emas tetap menarik sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global hingga akhir tahun.