periskop.id - Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam sepekan ke depan. Sentimen geopolitik global yang memanas, tekanan politik di Amerika Serikat, serta potensi penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan harga emas.
Pada perdagangan hari ini, Selasa (13/1), harga emas dunia tercatat berada di level US$4.591 per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia atau emas Antam berada di Rp2.651.000 per gram.
Pergerakan ini menandakan bahwa target harga emas yang diproyeksikan sebelumnya telah tercapai.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa level harga saat ini masih memiliki ruang untuk bergerak, baik terkoreksi maupun melanjutkan penguatan, tergantung sentimen global yang berkembang.
“Hari ini kita melihat bahwa jam 11 itu harga emas dunia ditutup di USD 4.591 per troy ounce, kemudian untuk logam mulia sendiri itu di Rp2.651.000 per gram," kata Ibrahim, Senin (13/1).
Ibrahim menjelaskan, apabila terjadi koreksi harga, emas dunia diperkirakan akan menguji level support pertama di US$4.553 per troy ounce, dengan harga logam mulia berada di Rp2.620.000 per gram. Jika tekanan jual berlanjut, support kedua emas dunia berada di US$4.516 per troy ounce, sementara logam mulia berpotensi turun ke Rp2.580.000 per gram.
Sebaliknya, jika tren penguatan berlanjut, emas dunia diperkirakan akan menguji resistance pertama di US$4.650 per troy ounce, dengan harga logam mulia berpeluang naik ke Rp2.850.000 per gram. Selanjutnya, resistance kedua emas dunia berada di level US$4.700 per troy ounce yang dinilai berpotensi ditembus dalam pekan ini, seiring kuatnya sentimen global.
“Kalau seandainya naik kembali, resistennya itu resistance kedua di US$4.700. Berarti dalam minggu ini ada kemungkinan besar harga emas dunia itu akan tembus di US$4.700, rupiah apa logam mulianya itu di Rp3.100.000," ulas Ibrahim.
Dari sisi fundamental, penguatan harga emas didorong oleh kondisi perpolitikan Amerika Serikat yang kembali memanas. Tekanan politik terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, menjadi salah satu sentimen yang meningkatkan ketidakpastian pasar. Powell dikabarkan menerima surat undangan dari Jaksa Agung Amerika Serikat terkait dugaan penyelidikan pembangunan gedung Bank Sentral AS yang berpotensi menyeret isu penguapan dana.
Situasi ini terjadi menjelang masa pensiun Powell pada Mei mendatang. Bahkan, dalam pernyataan terbarunya, Powell menyebut adanya indikasi tekanan politik yang bertujuan menjatuhkannya dari jabatannya. Selain itu, Jaksa Agung AS juga dijadwalkan memanggil Tina Chok, mantan gubernur Bank Sentral AS yang dipecat oleh Donald Trump, untuk dimintai keterangan.
“Dalam pidato kemarin, Powell pun juga mengatakan bahwa ada indikasi politik yang ingin menjatuhkan Powell di Bank Sentral Amerika di saat mendekati masa pensiunnya di bulan Mei," kata Ibrahim.
Ketegangan politik di Amerika Serikat diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang Januari. Selain isu internal, terdapat potensi memanasnya kembali perang dagang serta pelaksanaan pemilu sela pada kuartal pertama tahun ini. Kondisi tersebut membuka peluang perubahan peta politik, termasuk potensi kekalahan Partai Republik dari Partai Demokrat, yang dapat menjadi awal proses impeachment terhadap Donald Trump.
Dari sisi kebijakan moneter, meski data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan penambahan sekitar 50 ribu orang, kondisi ekonomi dinilai belum sepenuhnya solid. Hal ini membuka ruang bagi The Fed untuk kembali menurunkan suku bunga. Sebelumnya, Powell menyebut penurunan suku bunga hanya akan dilakukan satu kali pada 2026, namun kini peluang penurunan dua kali hingga April mulai terbuka.
“Walaupun pertumbuhan ekonominya cukup bagus di kuartal ketiga, tetapi indikasi ini masih ada ruang Bank Sentral Amerika kembali menurunkan suku bunga," jelas Ibrahim.
Selain Amerika Serikat, faktor geopolitik global juga turut mendorong minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Ketegangan di Timur Tengah masih tinggi, khususnya di Iran pasca demonstrasi besar-besaran yang menewaskan ratusan orang. Di Eropa, konflik Rusia dan Ukraina juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan berpotensi memanjang.
Kondisi tersebut dinilai akan menjaga tren positif harga emas dunia sepanjang pekan ini, yang pada akhirnya turut berdampak pada pergerakan harga logam mulia di dalam negeri.
Untuk pasar domestik, kenaikan harga logam mulia juga dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Rupiah diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan hingga akhir pekan, dengan potensi bergerak menuju level Rp16.820 hingga Rp16.900 per dolar AS.
“Masih ada kemungkinan besar bahwa di akhir pekan kemungkinan akan mendekati level di Rp16.900," imbuh Ibrahim.
Selain faktor nilai tukar, tingginya permintaan logam mulia di dalam negeri yang tidak diimbangi ketersediaan pasokan turut mendorong kenaikan harga. “Permintaan cukup banyak di dalam negeri, barangnya juga tidak ada. Sehingga ini yang mendongkrak harga logam mulia kembali mengalami penguatan,” tutup Ibrahim.
Tinggalkan Komentar
Komentar