iklan periskop
Saham

Dua Arah IHSG 2026: Tembus Target 10.000, Atau Putar Balik ke Level 7.500

IHSG memiliki dua skenario pada 2026, berpeluang menembus 10.000 namun juga berisiko terkoreksi ke 7.500 di tengah volatilitas pasar.

6 bulan yang lalu · 2 mnt baca
IHSG Sepekan Catat Rekor Baru, Simak Top Gainers dan Losers 3-7 November 2025
Ilustrasi Pasar Modal. Foto: Envato
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan diwarnai volatilitas tinggi sepanjang 2026. Di tengah tekanan global dan dinamika domestik, pasar saham Indonesia dinilai memiliki dua arah skenario, mulai dari peluang penguatan hingga risiko koreksi yang tetap perlu diantisipasi.

Co-Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menyebut, pada skenario optimistis (bull case), IHSG masih berpeluang menembus level 10.000 dalam 12 bulan ke depan. Namun, ia juga menekankan pentingnya mencermati skenario terburuk (bear case), di mana indeks bisa terkoreksi hingga kisaran 7.500.

“Arah jangka menengah IHSG tetap menuju 10.000. Tetapi dengan volatilitas yang sangat tinggi. Karena itu, kita juga harus menyiapkan skenario ke 7.500 sebagai antisipasi,” ujar Hans dalam Edukasi Wartawan BEI, Jumat (23/1).

Menurut Hans, tekanan pasar tahun ini datang dari kombinasi faktor fiskal, moneter, dan sentimen global. Kekhawatiran investor asing terhadap pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi arus dana, terutama di pasar obligasi.

Ia menjelaskan, defisit yang melebar berpotensi mendorong penerbitan obligasi dalam jumlah lebih besar, sehingga yield meningkat dan memicu pergeseran aliran dana. Meski demikian, ia menilai potensi inflow di pasar saham tetap terbuka, terutama jika fundamental emiten menunjukkan perbaikan.

Dari sisi moneter, isu independensi Bank Indonesia (BI) sempat menjadi perhatian pelaku pasar. Namun Hans menilai kekhawatiran tersebut masih bersifat spekulatif dan perlu dibuktikan melalui konsistensi kebijakan.

Selain itu, IHSG juga berpotensi terdampak dalam jangka pendek oleh rencana perubahan mekanisme penghitungan free float MSCI pada akhir Januari 2026. Meski demikian, dampaknya dinilai tidak mengubah arah jangka menengah pasar saham.

Hans menambahkan, prospek perbaikan daya beli masyarakat pada 2026 dapat menjadi penopang kinerja emiten, terutama di sektor konsumsi, energi, dan komoditas. Namun ia mengingatkan, fluktuasi pasar akan tetap tinggi seiring cepatnya perubahan narasi global.

“Pasar 2026 bukan pasar yang bergerak satu arah. Ada peluang, tapi juga risiko. Yang terpenting, investor memahami volatilitas dan mempersiapkan strategi yang tepat,” pungkasnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai IHSG, proyeksi IHSG, dan pasar modal dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.