periskop.id - Warga Kota Pekanbaru bernama Santi mengeluhkan kesulitan mendapatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax 92. Kelangkaan energi ini memaksanya harus rela mengantre sangat lama di stasiun pengisian resmi.

​Santi menyampaikan keluhan tersebut di tengah antrean panjang kendaraan kawasan Pekanbaru pada Rabu (29/4). "Beberapa hari ini memang sulit mencari Pertalite ataupun Pertamax di SPBU. Kalaupun ada, harus antre lama," ujarnya.

​Kondisi minimnya ketersediaan stok ini jelas sangat merepotkan aktivitas dan mobilitas harian masyarakat luas.

​Warga sering kali kehabisan waktu tunggu dan terpaksa beralih membeli bahan bakar di tingkat pengecer pinggir jalan.

​Transaksi pembelian di luar agen resmi ini tentu memaksa warga harus menanggung selisih lonjakan harga jual.

​"Kadang terpaksa beli eceran di pinggir jalan, harganya sudah naik jadi Rp14 ribu per liter, biasanya Rp12 ribu," katanya.

​Kesulitan akses energi publik ini seketika memicu penumpukan kendaraan bermotor secara masif di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

​Barisan mobil dan sepeda motor warga tampak mengular panjang hingga meluber memakan sebagian badan jalan raya.

​Aparat kepolisian setempat sampai harus turun tangan mengatur arus lalu lintas demi mencegah potensi kemacetan total.

​Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Riau AKBP Teddy merespons krisis ini dengan memperketat pengawasan langsung di lapangan.

​Pihak kepolisian memfokuskan operasi pencegahan terhadap segala bentuk praktik penyelewengan distribusi bahan bakar bersubsidi.

​"Kita sudah turun dan memberikan peringatan penyelewengan penimbun di semua SPBU. Kami juga mengingatkan masyarakat untuk tidak panic buying," katanya.

​Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menilai peningkatan tajam konsumsi energi ini berjalan seiring datangnya momen libur panjang.

​Perusahaan negara ini akhirnya mengambil langkah antisipatif dengan meningkatkan penyaluran pasokan Solar dan Pertalite hingga 20% melampaui batas normal.