periskop.id - Kenaikan harga BBM nonsubsidi di Indonesia pada pertengahan April 2026 kembali memicu perdebatan publik. Di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah yang membuat harga minyak mentah dunia melonjak, sebagian pengguna kendaraan mencoba mencari cara berhemat, termasuk dengan mengganti atau mencampur jenis bahan bakar.
Namun, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan bahwa langkah tersebut justru berisiko besar terhadap performa dan keawetan mesin. Menurutnya, penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan dapat menimbulkan masalah serius.
“Risiko utama mengganti jenis BBM beroktan lebih rendah pada kendaraan adalah mesin menjadi panas berlebih, tenaga drop drastis, dan konsumsi BBM justru meningkat,” ujarnya dikutip dari Antara, Senin (20/4).
Dalam jangka 10.000–20.000 km, kondisi ini bisa memicu penumpukan karbon di ruang bakar dan injektor, yang berujung pada idle kasar, akselerasi tersendat, serta emisi lebih kotor.
Risiko tersebut semakin besar pada kendaraan dengan spesifikasi tinggi, seperti mobil sport berturbo atau mesin berkompresi tinggi.
Yannes menjelaskan, penggunaan BBM yang tidak sesuai dapat mempercepat keausan komponen internal, termasuk ring piston. Hal ini sejalan dengan temuan sejumlah studi otomotif internasional yang menunjukkan bahwa mismatch bahan bakar dan rasio kompresi mesin meningkatkan potensi knocking serta memperpendek usia mesin.
Selain mengganti jenis BBM, praktik mencampur bahan bakar juga tidak disarankan.
“Tidak disarankan mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa, sebab kedua jenis BBM ini memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran berbeda,” kata Yannes.
Campuran semacam itu menghasilkan nilai oktan yang tidak stabil, memicu pembakaran tidak merata, hingga knocking sporadis.
Dalam jangka menengah, endapan dari campuran tersebut dapat menyumbat filter dan merusak sistem injeksi bertekanan tinggi seperti Common Rail atau GDI.
“Mencampur BBM bukan solusi penghematan yang efektif, melainkan hanya menunda masalah dan berpotensi mempercepat kerusakan. Lebih bijak pilih satu jenis sesuai spesifikasi yang ditentukan pabrikan,” tegasnya.
Di sisi lain, kenaikan harga BBM nonsubsidi memang cukup signifikan. Pertamina menetapkan harga Pertamax Turbo Rp19.400/liter, Dexlite Rp23.600/liter, dan Pertamina Dex Rp23.900/liter per 18 April 2026. Angka ini melonjak tajam dibanding awal bulan yang masih berada di kisaran Rp13.000–Rp14.500 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax (RON 92) tetap Rp12.300/liter, Pertamax Green Rp12.900/liter, serta BBM subsidi Pertalite Rp10.000/liter dan Biosolar Rp6.800/liter.
Lonjakan harga ini sejalan dengan tren global, di mana harga minyak mentah Brent sempat menembus US$95 per barel akibat ketegangan geopolitik dan pembatasan suplai dari OPEC+.
Kondisi ini memperlihatkan dilema konsumen: di satu sisi ingin berhemat, di sisi lain harus menjaga kesehatan mesin. Para pakar menilai, solusi jangka panjang bukanlah mencampur atau menurunkan kualitas BBM, melainkan beralih ke kendaraan yang lebih efisien.
Tinggalkan Komentar
Komentar