Periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi berpotensi kembali turun apabila harga minyak mentah dunia terus mengalami penurunan. 

Menurut Purbaya, kenaikan harga BBM non-subsidi yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan konsekuensi dari lonjakan harga minyak global. Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi agar tidak membebani masyarakat. 

Advertisement

"Salah satu tekanan yang kita alami adalah ketika harga minyak dunia naik, kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak bersubsidi, walaupun yang bersubsidi kita pertahankan. Tapi itu kan (kenaikan BBM non subsidi) sudah menimbulkan kegaduhan. Tapi saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat," kata Purbaya dalam raker Komite IV DPD, Jakarta, Senin (22/6). 

Ia mengakui kenaikan harga BBM non-subsidi, termasuk Pertamax, sempat memicu kegaduhan di tengah masyarakat. Diketahui, harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026. 

Namun demikian, Purbaya optimistis tren harga minyak dunia yang mulai melandai akan diikuti penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri. 
"Jadi emang ketika ketidakpastian meningkat seperti kemarin, harga minyak dunia tinggi sekali, kita dalam ujian yang berat,'imbuh dia. 
Purbaya menilai perekonomian Indonesia telah berhasil melewati periode penuh tekanan akibat tingginya ketidakpastian global dan lonjakan harga energi. Berdasarkan perkembangan data terbaru, kondisi tersebut mulai membaik dan memberikan ruang bagi pemerintah untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi. 
"Tapi kalau dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu, ke depan tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada, supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal," terang Purbaya. 
Ia menambahkan, membaiknya prospek penyelesaian konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan Iran, serta tren penurunan harga minyak dunia diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi perekonomian nasional pada semester II 2026. 
"Jadi, keadaan memang bukan ideal, tapi yang jelas kita terpaksa mengambil tindakan untuk memitigasi dampak global supaya kita masih bisa bertahan dan Alhamdulillah sampai dengan sekarang masih bisa tumbuh baik. Saya harap ke depan dengan tadinya tadi prospek membaiknya kondisi di perang iran dan harga minyak yang lebih rendah, harusnya kita akan lebih baik di paruh kedua tahun ini," Purbaya mengakhiri.