periskop.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan rencana penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diperkirakan baru akan terealisasi pada 2027. Pelaksana tugas sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan proses menuju IPO tidak bisa dilakukan terburu-buru, terutama untuk perusahaan pelat merah yang memiliki skala dan kompleksitas bisnis besar.

Ia menegaskan bursa tetap membuka ruang bagi BUMN yang ingin melantai di pasar modal. Namun, faktor kesiapan fundamental, tata kelola, hingga prospek usaha menjadi penentu utama sebelum IPO benar-benar digelar. Menurutnya, harapan agar semakin banyak BUMN tercatat di bursa memang tinggi, tetapi seluruh proses harus melalui persiapan matang.

"Kita tunggu kesiapannya, tapi harapan IPO BUMN kita jaga terus," ucap Jeffrey di Jakarta, Jumat (13/2).

BEI, lanjut Jeffrey, konsisten mengedepankan prinsip quality over quantity dalam setiap aksi korporasi, termasuk IPO. Artinya, kualitas emiten jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar jumlah perusahaan yang melantai di bursa. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan ekspektasi investor yang menginginkan perusahaan dengan fundamental kuat, transparansi terjaga, dan prospek pertumbuhan berkelanjutan.

"Kami akan mengutamakan quality over quantity. Ya, tentu itu juga yang diharapkan oleh seluruh investor,” sambungnya.

Ia menegaskan BEI tidak ingin terburu-buru hanya demi menambah daftar emiten baru. Bursa memilih menjaga standar seleksi agar perusahaan yang tercatat benar-benar siap menghadapi dinamika pasar.

Sebelumnya, Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Dony Oskaria, mengatakan akan membidik tahun 2027 sebagai titik awal pelaksanaan IPO bagi sejumlah perusahaan BUMN yang berada dalam pengelolaan institusi tersebut.

"Ya mudah-mudahan tahun 2027, kami akan mulai melakukan proses IPO," ucap Dony beberapa waktu lalu.

Target itu, kata Dony, menjadi sinyal langkah menuju pasar modal tengah dipersiapkan, meski belum akan direalisasikan dalam waktu dekat. Ia menyampaikan, hingga 2026 belum ada rencana IPO yang benar-benar dieksekusi. Fokus utama saat ini adalah membenahi fondasi internal perusahaan, mulai dari memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan performa operasional, hingga merapikan struktur korporasi agar lebih adaptif dan transparan.

Langkah konsolidasi ini dinilai krusial agar saat momentum IPO tiba, perusahaan tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga solid secara kinerja dan prospek pertumbuhan.

Selain itu, menurutnya, proses menuju bursa bukan sekadar agenda pencatatan saham, melainkan transformasi menyeluruh. Perusahaan-perusahaan BUMN yang dipersiapkan harus mampu menunjukkan daya saing, efisiensi, serta tata kelola yang memenuhi ekspektasi investor publik.