periskop.id - Lembaga Indonesian Public Institute (IPI) baru saja merilis bursa bakal calon presiden 2029. Meski figur pemimpin saat ini masih berada dalam peringkat teratas, munculnya wajah-wajah baru dengan angka elektabilitas yang kompetitif menjadi sorotan utama. Melalui survei terhadap 1.241 responden di 35 provinsi, ditemukan tren menarik ketika masyarakat mulai menimbang integritas serta visi-misi di atas sekadar ketenaran.
Riset IPI menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error yang relatif kecil, yakni 2,78% pada tingkat kepercayaan 95%. Dengan metodologi tersebut, hasil survei ini dapat menjadi kompas awal yang cukup akurat untuk membaca ke mana arah angin politik 2029 akan berembus.
Dari bangkitnya pemimpin luar Jawa hingga persaingan sengit di papan tengah, mari simak ulasan lengkap mengenai pergeseran dukungan publik dan munculnya kekuatan baru dalam bursa kepemimpinan nasional berikut ini.
Gebrakan Wajah Baru di Bursa 2029
Dunia politik Indonesia selama ini mungkin identik dengan tokoh itu-itu saja. Namun, survei IPI periode 30 Januari hingga 5 Februari 2026 menunjukkan dinamika berbeda. Nama Sjafrie Sjamsoeddin (Menteri Pertahanan) sukses menyodok ke urutan ke-7 dengan elektabilitas 7,5%. Tak sendirian, ia ditemani oleh Purbaya Yudhi Sadewa (Menteri Keuangan) di angka 4,9% dan Sherly Tjoanda (Gubernur Maluku Utara) dengan 3,8%.
Menariknya, kemunculan nama-nama ini bukan sekadar faktor keberuntungan. Peneliti IPI, Abdan Sakura, menyebutkan bahwa publik mulai melihat indikator yang sangat teknis. Untuk kasus Sjafrie, kekuatan utamanya terletak pada aspek kepemimpinan dan ketokohan yang menyentuh angka 44%. Disusul oleh rekam jejak kepemimpinan sebesar 17% serta integritas di angka 10%.
Munculnya figur seperti Sherly juga menandakan bahwa kepemimpinan daerah dari luar Pulau Jawa mulai mendapatkan panggung nasional. Ini menjadi sinyal positif bagi demokrasi kita. Artinya, kesempatan untuk memimpin bangsa ini semakin terbuka lebar bagi siapa pun yang memiliki kinerja nyata, tanpa terbatas sekat geografis atau sekadar popularitas di layar kaca.
Pemilih Rasional Mulai Tinggalkan Popularitas
Meskipun wajah-wajah baru mulai bermunculan, kita tidak bisa menutup mata bahwa barisan terdepan elektabilitas masih dikuasai oleh tokoh-tokoh senior. Presiden Prabowo Subianto tetap kokoh memimpin dengan angka 22,3%, disusul Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di posisi kedua dengan 12,2%, dan Ganjar Pranowo sebesar 9%. Data ini memberi sinyal kuat bahwa faktor keberlanjutan pemerintahan dan intensitas eksposur media masih menjadi magnet utama bagi mayoritas pemilih saat ini.
Tepat di bawah mereka, yakni di papan tengah, persaingan terasa jauh lebih sengit karena selisih angka yang sangat tipis. Mantan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, menempati urutan keempat dengan 8,5%. Namun, posisinya dibayangi ketat oleh Dedi Mulyadi (Gubernur Jawa Barat) di angka 7,9% serta Pramono Anung (Gubernur DKI Jakarta) yang meraih 7,8%. Tak ketinggalan, nama baru seperti Sjafrie Sjamsoeddin juga mulai mengancam posisi para tokoh populer tersebut.
Pertanyaannya, mengapa wajah-wajah baru ini sanggup mengejar elektabilitas tokoh senior? Abdan memberikan catatan penting bahwa saat ini popularitas semata tidak lagi menjadi jaminan. Pemilih Indonesia di tahun 2026 terpantau semakin rasional dan kritis. Mereka tidak lagi hanya terpukau oleh siapa yang paling sering muncul di media sosial, melainkan lebih fokus pada siapa yang memiliki program kerja paling masuk akal.
Kondisi ini menciptakan jarak antara penilaian publik terhadap kelayakan seorang tokoh dengan keputusan mereka untuk memilih. Banyak tokoh dianggap layak karena pengalaman mereka, tetapi masyarakat belum sepenuhnya menetapkan pilihan hati. Celah inilah yang menurut IPI bisa menjadi kejutan politik di masa depan. Jika terjadi krisis atau perubahan peta koalisi secara mendadak, tokoh-tokoh di papan tengah inilah yang paling berpotensi melakukan lompatan elektoral (electoral leap) untuk menggoyang kemapanan nama-nama besar yang berada di posisi teratas.
Tinggalkan Komentar
Komentar