Periskop.id - Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) melaporkan sebanyak 23 dapur atau katering siap melayani jamaah calon haji gelombang pertama yang berangkat dari Indonesia ke Madinah. Kepala Seksi Konsumsi Daerah Kerja (Daker) Madinah Beny Darmawan memastikan, makanan yang akan dikonsumsi jamaah bercita rasa Nusantara, sehingga tidak perlu risau selama berada di Madinah sekitar sembilan hari.
“Seluruhnya sudah diseleksi oleh Kemenhaj Republik Indonesia,” ujar Beny dalam keterangannya di Jakarta, Senin (20/4).
Selama tinggal di Madinah, jamaah Indonesia akan mendapatkan makan sebanyak 27 kali atau tiga kali sehari, dengan menyesuaikan kebiasaan masyarakat Indonesia yang makan di waktu pagi, siang, dan menjelang malam.
Beny mengatakan, seluruh bumbu yang digunakan dalam meracik menu masakan didatangkan dari Indonesia dalam bentuk pasta atau sudah racikan. Bumbu pasta asli Indonesia jauh lebih memudahkan dalam proses distribusi hingga produksi, jika dibanding harus mendatangkan bumbu secara mentah.
Tidak hanya bumbu, juru masak juga menjadi syarat yang harus dipatuhi oleh dapur yang bekerja sama dengan Kemenhaj RI. Setiap dapur harus memiliki setidaknya dua orang koki utama dan empat orang asisten yang berasal dari Indonesia.
“Itu menjadi kewajiban dan alhamdulillah mampu dipenuhi oleh seluruh dapur yang sudah diseleksi Kemenhaj,” kata dia.
Sementara bagi jamaah calon haji lanjut usia (lansia), menunya akan menyesuaikan agar nutrisi mereka tetap terpenuhi serta dapat disesuaikan dengan permintaan.
“Kalau untuk lansia ini sesuai kontrak yang sudah dibuat, jamaah bisa minta menu. Sebenarnya menu sama, tapi biasanya nasi buat bubur atau lebih lunak agar bisa lebih dicerna,” jelasnya.
Dengan jaminan ini, jamaah calon haji Indonesia tidak perlu khawatir dengan kondisi makanan. Makanan akan dicek dan diawasi sebelum sampai di hidangan jamaah.
Pengecekan sampel dilakukan di tiga lokasi, yakni di kantor Daker Madinah, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan di sektor tempat jamaah berada. “Pengawasan terakhir nanti ada petugas konsumsi di hotel yang memeriksa makanannya. Pengawasan juga sudah dilakukan di kantor Daker dan KKHI,” tandasnya.
Dapur di Makkah
Tak hanya di Madinah, di Makkah, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) juga memastikan, dapur penyedia konsumsi bagi jamaah haji Indonesia di kawasan Safwat Al Wessam, Walyal Ahd District, Mekkah, Arab Saudi memenuhi standar kualitas, kebersihan, serta menghadirkan cita rasa nusantara.
Menteri Haji dan Umrah Moch Irfan Yusuf dalam keterangan diterima di Jakarta, Minggu, mengatakan, untuk memastikan layanan konsumsi berjalan optimal dan higienis, maka dilakukan supervisi dan pengecekan langsung terhadap dapur aktif oleh jajaran pimpinan Kemenhaj.
"Aspek kebersihan menjadi perhatian utama dalam supervisi ini. Seluruh area penyimpanan bahan makanan dipastikan dalam kondisi bersih dan higienis, memenuhi standar keamanan pangan. Pengecekan juga dilakukan menyeluruh mulai dari area dapur, proses memasak, hingga tahap pengemasan," tuturnya.
Menurut dia, penyedia konsumsi jamaah haji akan menggunakan bumbu masak asli dari Indonesia, termasuk beras. Kebijakan itu diambil untuk menjaga konsistensi rasa dan memastikan jamaah tetap dapat menikmati hidangan dengan cita rasa yang akrab seperti di tanah air.
"Pemerintah juga meminta agar pengolahan beras Indonesia dilakukan sesuai standar yang biasa diterapkan di Indonesia, sehingga kualitas tekstur dan rasa nasi tetap terjaga," imbuhnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar