periskop.id – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mendesak aparat kepolisian untuk segera menyelidiki dan membongkar motif di balik rangkaian aksi teror yang menimpa sejumlah aktivis serta pemengaruh (influencer) usai mereka melontarkan kritik pedas terkait penanganan bencana di Sumatera.
“Terkait maraknya teror yang menimpa influencer, saya minta kepada aparat kepolisian untuk mengusut secara tuntas agar diketahui apa motif dan siapa pelakunya,” tegas Pigai dalam keterangan resminya, Jumat (2/1).
Pigai memberikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat yang berani bersuara. Ia menilai langkah para pemengaruh menggunakan ruang demokrasi untuk mengkritik kondisi negara adalah hal positif.
Situasi kebebasan sipil saat ini dinilainya sedang berada dalam fase surplus demokrasi. Setiap orang bebas mengutarakan pikiran tanpa hambatan birokrasi yang kaku.
“Dalam situasi ini, tidak mungkin institusi, apalagi negara, menghalangi kebebasan tersebut,” tambahnya.
Meski demikian, Pigai mewanti-wanti agar kebebasan berekspresi tetap dijalankan dengan prinsip kehati-hatian. Kritik keras sering kali tergelincir menjadi serangan personal yang mencederai kehormatan individu atau lembaga.
Mantan komisioner Komnas HAM ini juga menyoroti potensi adanya pihak yang sengaja memainkan peran sebagai korban atau playing victim. Narasi dizalimi kerap dipakai segelintir orang demi mendongkrak jumlah pengikut di media sosial.
Ia meminta publik dan pemengaruh tidak serta-merta menuduh pemerintah sebagai dalang di balik teror tersebut. Tuduhan tanpa bukti hukum yang valid hanya akan memperkeruh suasana.
Pigai mengimbau masyarakat agar waspada terhadap logika sesat dalam beropini. Praktik seperti serangan fisik (ad hominem), manipulasi emosi, hingga generalisasi masalah harus dihindari agar penilaian tetap objektif.
Terkait penanganan bencana di Sumatera, pemerintah mengklaim telah bekerja sistematis. Tahapan tanggap darurat hingga rekonstruksi infrastruktur terus berjalan di lapangan.
“Semua orang tentu tahu dan telah menyaksikan bahwa hampir setiap minggu Presiden datang ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ujarnya membela kinerja pemerintah.
Pigai menolak keras segala bentuk pembingkaian (framing) yang memojokkan negara sebagai pelaku teror. Ia menjamin aktor negara tidak terlibat dalam intimidasi tersebut.
Pemerintah tetap menghormati sikap kritis warga negara. Namun, penyampaian aspirasi wajib berbasis fakta dan bukan manipulasi demi popularitas semata.
Sebagai informasi, gelombang teror menimpa sejumlah kreator konten yang vokal mengkritik pemerintah soal bencana. Korban intimidasi ini antara lain Ramon Dony Adam (DJ Donny), Sherly Annavita, Chiki Fawzi, hingga aktivis Greenpeace Iqbal Damanik.
Bentuk teror yang diterima cukup beragam dan mengerikan. DJ Donny menerima kiriman bangkai ayam dan lemparan bom molotov di rumahnya pada Senin (29/12) dan Rabu (31/12).
Sementara itu, kendaraan milik Sherly Annavita menjadi sasaran vandalisme. Iqbal Damanik juga mendapat paket bangkai ayam berisi pesan ancaman keselamatan bagi keluarganya.
Tinggalkan Komentar
Komentar