periskop.id - Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS Aboe Bakar Al Habsyi meluapkan kekesalannya terhadap perilaku para tersangka korupsi di Indonesia yang dinilai tidak memiliki rasa malu maupun jera.
Aboe Bakar menyoroti sikap para koruptor yang justru tetap tampil percaya diri saat dipublikasikan ke hadapan publik setelah ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Presiden teriak ‘korupsi, korupsi’, tapi tetap ada. Dan enggak ada jera. Senyum lagi ketika dibawa, petengteng-petengteng. Pengen tabok aja rasanya,” kata Aboe Bakar, dalam rapat kerja bersama pimpinan KPK, di Gedung DPR, Rabu (28/1).
Menurut Aboe Bakar, ekspresi tanpa beban para tersangka korupsi tersebut menunjukkan adanya masalah besar dalam sistem hukum dan sosial di Indonesia.
“Petantang-petenteng, enak gitu, enggak ada beban. Wallahualam sebabnya apa,” tegas dia.
Aboe Bakar juga membandingkan sistem pencegahan korupsi di Indonesia dengan Singapura. Ia menilai, di negara tetangga tersebut, hak-hak pejabat sudah terpenuhi secara sistematis dalam anggaran sehingga meminimalisir celah “ambil jatah”.
“Saya enggak ngerti, contoh Singapura. Kenapa korupsi di sana gak kelihatan? Karena dalam transaksi-transaksi pemerintahan, itu hak-haknya si pejabat-pejabat sudah ada di dalam pembiayaan gitu. Jadi dia tidak berhak ngambil-ngambil lagi,” ujar Aboe Bakar.
Aboe Bakar menyayangkan kondisi di Indonesia yang memperlihatkan biaya politik tinggi, mulai dari pemilu hingga biaya operasional jabatan. Kondisi ini menjadi pemicu utama munculnya praktik korupsi.
“Kalau kita kan enggak. Dari mulai pemilunya, mulai pengeluaran pembiayaannya, sampai mencari uang kembali. Itu awal daripada kasuistik korupsi yang paling baik,” ungkap dia.
Menurut Aboe Bakar, sistem tersebut membuat posisi menteri atau pejabat publik di Indonesia menjadi sangat rawan terseret kasus hukum. Ia mengibaratkan para pejabat saat ini hanya sedang menunggu nasib apakah akan dipanggil oleh KPK atau tidak.
“Maka jadi menteri, jadi pejabat, gak enak di Indonesia ini sebenarnya. Nunggu penantian panggilan dari KPK saja, siap-siap kalau kena. Kalau yang kena, ya nasib tuh kena. Yang enggak, kebetulan aja lo gak kena. Itu gak enak,” ungkap dia.
Aboe Bakar pun mendesak agar Komisi III, KPK, dan Presiden berkolaborasi lebih serius untuk memikirkan perbaikan sistem secara menyeluruh untuk memutus rantai korupsi.
Tinggalkan Komentar
Komentar